Ketika Manchester United Jadi Mainan Manchester City

Ketika Manchester United Jadi Mainan Manchester City

Jakarta, CNN Indonesia — Manchester City terus bersenang-senang di Liga Inggris. Dalam laga terakhir di Stadion Etihad, Minggu (11/11), giliran Manchester United yang yang jadi mainan ‘The Citizens’.Manchester City di bawah Pep Guardiola benar-benar memperagakan sepak bola yang menyerang dan mengundang kekaguman. Manchester City turun ke lapangan bukan hanya sekadar mencari kemenangan, namun juga menunjukkan sebuah hiburan.

Sementara itu Manchester United datang ke Stadion Etihad dengan misi mencuri poin, entah itu satu ataupun tiga. Kemenangan di markas Juventus pun jadi modal untuk percaya di laga ini.Melihat formasi yang diturunkan Jose Mourinho, jelas ‘The Special One’ membidik serangan balik untuk bisa mencetak gol ke gawang lawan. Trio pemain dengan kaki cepat, Jese Lingard-Marcus Rashford-Anthony Martial di taruh di lini depan.
Sementara itu untuk posisi gelandang, trio Ander Herrera, Nemanja Matic, dan Marouane Fellaini diharapkan bisa ikut turun membantu pertahanan dan merusak dominasi penguasaan bola yang dilakukan Manchester City.

Anthony Martial dan kawan-kawan kesulitan mendapatkan pasokan bola di lini depan. (REUTERS/Jason Cairnduff)

Namun rencana Mourinho itu sudah rusak di menit ke-12 lewat gol David Silva. Gol Silva menggambarkan buruknya koordinasi lini pertahanan ‘Setan Merah’ di laga itu. Ada tujuh pemain Manchester United di kotak penalti namun tidak bisa mengawal dengan baik dan benar empat pemain Manchester City yang ada di area berbahaya tersebut.Umpan silang Raheem Sterling ke tiang jauh diteruskan oleh Bernardo Silva ke muka gawang. Dari banyaknya pemain tersebut, tidak ada satu pun yang mengikuti pergerakan David Silva. Alhasil, pemain asal Spanyol itu dengan mudah melepaskan tendangan keras dari jarak dekat.
Gol kedua Manchester City yang diciptakan oleh Sergio Aguero juga menunjukkan kelemahan lini belakang Manchester United. Umpan 1-2 Aguero dengan Riyad Mahrez diakhiri dengan tendangan keras kaki kanan dari sudut yang sempit.
Manchester United Tak Bisa Menyerang
Dengan kondisi tertinggal dua gol, Mourinho lalu memutuskan untuk memasukkan Romelu Lukaku untuk menggantikan Lingard. Keputusan ini tepat karena Lukaku mendapatkan penalti untuk Manchester United. Anthony Martial berhasil menunaikan tugasnya sebagai eksekutor dengan baik.
Saat Manchester United mendapat momentum untuk bangkit, mereka malah tidak bisa memberikan reaksi positif. Marouane Fellaini dan kawan-kawan tidak bisa lama menguasai bola dan mengkreasi serangan.

Marouane Fellaini tidak bisa memberikan keuntungan bagi Manchester United dalam situasi bola mati pada laga ini. (Reuters/Jason Cairnduff)

Kaki-kaki lincah para pemain Manchester City membuat Manchester United hanya bisa terus bertahan menghalau serangan. ‘Setan Merah’ butuh gol kedua namun bola justru sering bergulir di daerah pertahanan mereka.Peluang demi peluang Manchester City yang gagal adalah satu-satunya alasan Manchester United masih memelihara peluang untuk meraih poin di laga ini. Meski mendominasi penguasaan bola dan menebar banyak ancaman, Aguero dan kawan-kawan tak kunjung mendapatkan gol ketiga.
Harapan tersebut yang pada akhirnya membuat Mourinho memasukkan Juan Mata dan Alexis Sanchez di menit ke-73. Namun Mata dan Sanchez sama sekali tidak memberikan efek positif terhadap kinerja lini serang Manchester United.
‘Setan Merah’ jelas tinggal berharap pada situasi bola mati yang mungkin bisa membuat mereka mendapatkan gol kedua karena dalam skema serangan terbuka, Manchester United benar-benar tak berdaya.
Harapan Manchester United akhirnya pupus di menit ke-86. Gol ketiga Manchester City juga menunjukkan buruknya lini pertahanan Manchester United. Umpan Bernardo Silva membuat Ilkay Guendogan berdiri bebas di depan gawang. Chris Smalling dan Victor Lindelof tidak berada di posisi tempat seharusnya ia berada.

Gol ketiga Manchester City akhirnya jadi momen penting yang meredam upaya bangkit Manchester United. (Reuters/Jason Cairnduff)

David De Gea pun tak mampu berbuat banyak untuk menghalau bola agar tak masuk ke gawang.Berkaca pada performa lawan Manchester City, Manchester United harus menghindari cara main yang sama. ‘Setan Merah’ terbukti bukan tim yang solid saat bertahan sehingga Mourinho sadar bahwa mustahil bagi mereka untuk menerapkan pola permainan bertahan dan mengandalkan serangan balik.

Manchester United hanya mencatat satu tembakan tepat sasaran di laga ini, yaitu tendangan penalti Anthony Martial. Catatan ini menjadi gambaran jelas bahwa Manchester United kalah segalanya, baik dari segi penampilan maupun hasil akhir.Mourinho harus menemukan strategi yang lebih baik karena bila tidak mereka hanya akan kembali jadi objek mainan saat bertemu tim-tim besar. (har)

Facebook Comments

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*