Puisi Covid-19 Isbedy Stiawan ZS: “Bawa Aku Dari Penjara Ini!”

Paus Sastra Lampung, Isbedy Stiawan ZS

Bandarlampung. Pandemi virus Corona dari Kota Wuhan yang  kini mewabah di Indonesia,  mengilhami Isbedy Stiawan ZS  untuk menuliskannya  dalam bentuk  puisi –tepatnya puisi esay –. Rabu, (01/04). Banyak kritik  yang dia sampiakan salah satunya atas lambannya penanganan pandemi ini. Berikut culikan puisinya:

BAWA AKU DARI PENJARA INI

: Kisah Pasien Covid-19

aku ingin pulang bapak

aku ingin memeluk ibu

di sini aku bagai dalam penjara

bukan karena membunuh,

menipu, atau pun mencuri uang negara

tapi corona itu, virus dari wuhan

bisa mati layaknya tangan Tuhan

yang mencabut nyawaku pelanpelan (1)

 

Tuhan Mahakasih, disebarnya virus

dari Wuhan(2), lalu negeri-negeri

yang diinginkan maupun abainya

sang pemimpin!(3)

aku Sania(4), perempuan dari Lampung,

bagian barat. tak bisa pulang ke kampung

halaman. Aku dikarantina di kota ini,

bagai dalam bui. Begitu sepi….

 

aku hanya keluar dari kaca televisi

ke layar televisi lainnya. mendengar kabar

yang seliweran, tentang corona,

jumlah pasien, kematian, dan hanya

sedikit yang bisa disembuhkan(5)

 

o Tuhan, ke kubur lebih dekat

daripada aku bisa memeluk

orang-orang yang kukasihi

bahkan, kematian sangat kucemaskan!

 

yang mati tanpa ciuman terakhir

pemakaman seakan tak menerima jasadnya

serupa kematian tanpa cinta kasih. petugas

yang memandikan jenazah khawatir

tertular pula; dibungkus plastik setelah kafan

lalu liang kubur menanti pelayat yang sepi(6)

betapa kematian yang sunyi dan sedih!

 

aku ingin pulang, bawa aku dari penjara ini;

tempat isolasi yang sunyi dan misteri ini

cuma menunggu kematian atau disembuhan

menghitung detik-detik yang berlalu

dan matahari esok pagi. sementara kau hanya

mengirim katakata bergelembung sabun

 

bukan itu, tapi beri obat paling mujarab

agar aku bia keluar dari tempat ini

sebuah zona amat neraka. atau kalau bisa

lari, aku ingin kabur dari sini. kupesan

travel secepat sampai di rumah(7), kupeluk

dan kuciumi ibu, aku rebah di dada bapak

aku bayangkan itu semua, kukenangkenang

ketika ibu mengantarku hingga depan rumah

saat aku pamit hendak merantau ke Jakarta

“aku mau hidup seribu tahun lagi(8), dan jika

aku kaya, emak dan bapak pula menikmati.”

begitu kira-kira kukatakan pada ibu

sebelum aku meninggalkan kampung itu…

 

kepada bapak yang selalu menyayangiku

selalu kusiapkan ciuman paling kasih

dari seorang anak di perantauan ini

 

tapi ini corona, virus yang serupa badai

menghujani setiap jengkal bumi ini

menyebar layaknya tangan gurita

mencengjeram dan mencekam!

dari wuhan, ia migrasi ke kota lain,

ke negaranegara yang terpetakan

menumpang pada tubuhtubuh manusia

berpindah ke tubuhtubuh lain

atau mengeras pada bendabenda

“aku terpapar, aku jadi pasien

aku pun dimasukkan ke penjara ini!”

 

lalu sunyi, lalu dirundung cemas

dan waswas. apakah esok aku masih

mendengar suaramu, orangorang kukasihi

apakah yang berdiam di rumah

tak rindu bercakapcakap,

saling bersilaturahmi? bukankah

kunjung-mengunjungi memanjangkan

usia? kau pun serupa pidana, seperti

juga aku yang kini di rumah sakit

meninabobo perih dan lara

 

Tuhan Mahapengasih tak pamrih

tenggelamkan virus ini di laut terdalam

tanamkan pandemi ini ke bumi tak terukur

kuburlah kubur!

karena sudah banyak

kematian ini, begitu banyak pasien yang

menanti dalam cemas: turut ke kuburan

ataupun pulang dengan wajah riang

tak mati dalam sebenarbenar kesepian

tak sunyi dibiarkan kerabat sejati

 

jika pun aku tak bisa pulang

tiada yang membawaku pergi

dari penjara ini, aku kini ikhlas

berdiam dalam ruang ini. dikarantina

kau yang kini di rumah saja

mungkin deritamu tak seberapa

meski kau tak bisa apaapa

menunggu Tuhan menebar rezeki

 

tapi, diamlah di rumah

hidup ini sesekali perlu pasrah

petik hikmah sebagai ibrah

Catatan:

(1)  Virus Corona (Covid-19) bermula dari Wuhan, China, kini menyebar ke berbagai negara. Bahkan, sampai Indonesia, yang tercatat pada 30 Maret 2020 berjumlah 1.414  orang terinfeksi Covid-19. Di Lampung, terdata pada 30 Maret 2020, seorang pasien meninggal dunia . Untuk memutus mata rantai penyebaran virus ini, pemerintah melakukan kebijakan di rumah saja alias kuncitara. Sebetulnya istilah lain dari lockdown (kuncitara). Sementara bagi yang dinyatakan terpapar dan diindikasi terpapar diisolasi/dikarantina.

(2) Sebelum wabah coronavirus yang baru melanda Wuhan pada bulan Desember, kota di Cina tengah ini telah tergelincir dari kesadaran masyarakat umum di Barat.

Dua generasi yang lalu, kota berpenduduk 11 juta jiwa ini, yang terletak di persimpangan Sungai Yangtze dan Sungai Han, 965 km di hulu, di Cina tengah, dikenal melalui Barat sebagai kota industri besar.

Dikutip dari CNN, 23 Februari 2020, Wuhan bahkan mendapat julukan Chicago dari Cina. Pada tahun 1900, majalah Amerika Collier menerbitkan sebuah artikel tentang kota Wuhan di Sungai Yangtze, menyebutnya “Chicago di Cina.” Itu adalah pertama kalinya kota Cina ini mendapat julukan Chicago. (https://dunia.tempo.co/read/1311242/mengenal-kota-wuhan-yang-dijuluki-chicago-dari-cina/full&view=ok)

(3) Sebelum Arab Saudi “menolak” calon jamaah umroh dari Indonesia, Pemerintah RI dengan jumawa mengatakan “Corona tak akan berani masuk Indonesia”, “Buktikan Indonesia terkena virus corona”, ataupun “Corona takut dengan nasi kucing” dll.

(4) Nama saya samarkan, dan kisah hidupnya dalam puisi esai mini ini juga hanya rekaan. Ia dikarantina karena terpapar virus Copid 19 di Jakarta. Sempat kabur dari tempat isolasi. (https://www.kupastuntas.co/2020/03/29/warga-lampung-barat-positif-covid-19-di-jakarta-diduga-kabur)

(5) https://www.cnnindonesia.com/nasional/20200329130531-20-487996/update-corona-29-maret-1285-kasus-114-meninggal-64-sembuh

(6) Bahkan dari kabar yang tersiar, warga setempat di pemakaman umum yang enggan menerima  jenazah yang meninggal karena covid 19; https://lampungpro.co/post/27056/ditolak-warga-batu-putu-telukbetung-barat-pasien-positif-corona-belum-dimakamkan

(7) Kabar yang viral di watsapp bahwa perempuan terpapar covid 19 dari Lampung Barat diduga akan kabur, sampai Bupati Farosil Mabsus langung menelepon yang bersangkutan; percakapan bupati ini juga viral. “Ini Pakcik, atas nama pribadi dan pemerintah, saya menyampaikan turut prihatin. Tapi LN mesti semangat, karena penyakit ini masih bisa disembuhkan,” kata Parosil. (Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Viral Video Bupati Lampung Barat Telepon Memohon Pasien Positif Jangan Pulang Dulu”, https://regional.kompas.com/read/2020/03/30/06103851/viral-video-bupati-lampung-barat-telepon-memohon-pasien-positif-jangan.)

(8) Kutipan puisi Chairil Anwar

Facebook Comments

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*