Puisi Agusri Junaidi

1/

Langit berawan dan jalanan kembali berlubang.

Di sosmed aroma perebutan meruak ke udara yang berdarah.

Corona sedang menebar teror pada dunia.

Corona ujar massa dalam waswas.

Mendadak Wuhan menjelma nama sebuah kota yang seram.

Dari pasar hewan di Wuhan, Corona menebar teror, mereka sedang pergi menuju kota-kota lain.

“Ayah pakai lah masker ini,” ujar putriku
waktu aku akan bekerja.

Corona membuat ia takut kehilangan.
Ia menunggu langkah Xi Jin Ping selanjutnya.

Kami akan perangi iblis ini kata Xi Jin Ping, ini perang yang serius dan kita harus memenanginya.

Mimik Xi Jin Ping berubah seperti seorang kaisar dari dinasti Han.

2/

Seorang pria berambut putih bermasker tergeletak tanpa nyawa di trotoar kota Wuhan.

Kantung plastik belanjaan ditangan menguraikan isinya diatas aspal.

Kota industri dengan sebelas juta jiwa ini kini zona merah.

Mayat lelaki malang itu membujur telentang di depan sebuah toko furniture yang sudah ditutup.

Petugas dengan overall warna biru berhati-hati menutup jasad tersebut dengan selimut biru.

“Mengerikan sekarang ini banyak orang mati,” ujarnya lirih.

Seorang wanita melintas dekat mayat pria yang terbujur mengenakan piyama merah muda dan topi gaya Mao itu.

Ia yakin Corona telah menikam pria itu dengan virus kematian. (2020).

Agusri Junaidi lahir di Banjit,  Way Kanan,  43 tahun lalu. Bekerja sebagai ASN di Pemprov Lampung dan menjadikan literasi sebagai kebutuhan di sela waktu. Dua buku antologi puisi tunggalnya: Lelaki Yang Menyimpan Kata-Kata di Saku Benaknya dan Wajah Musim diterbitkan oleh Siger Publisher. Cerpennya: Corona dan Tiada Lockdown di Hatinya  dumuat di laman sastra Deteksilampung.com beberapa waktu lalu.

Menjabat Direktur Eksekutif Lentera Lampung pada 2005 – 2008, Agusri kini bergiat di Lamban Sastra Isbedy Stiawan ZS.

Facebook Comments

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*