Cerpen Agusri Junaidi

KEHILANGAN itu seperti godam yang menghantam ruang dada. Seakan digedorkan ke dalam kenyamanan hari-hari. Begitulah, sejak kematian suamiku, kurasakan hidup yang limbung.

Selama ini aku merasakan perlindungan dalam semua hal. Suamiku posesif dan itu membuat hidupku lebih sederhana. Dengan berlaku menurut terhadap semua yang dikehendakinya, aku jalani kodrat istri yang mengabdi.

Entah mengapa, kematian selalu saja datang tak terduga. Tak seorangpun membayangkan suamiku akan begitu cepat berpulang.  Banyak yang mulanya tak percaya, namun siapa mampu  melawan takdir Tuhan. Sudah hampir setengah tahun berlalu tapi aku belum sepenuhnya merelakan kehilangan itu.  Masih  jelas dalam ingatanku ketika kematian itu datang dan kami sedang dalam perjalanan ke kota yang lain. Kami ingin berlibur sejenak dan melupakan peliknya hidup dan pekerjaan. Ia tiba-tiba merasakan kedinginan yang sangat: “Selimuti aku,” lirihnya berucap.

“Dingin sekali,” ia menggapai tanganku,  berharap sebuah pelukan. “Kemarilah Ais,” pintanya kemudian memeluk putri bungsu kami yang ikut dalam perjalanan itu. Matanya mengungkapkan kalaui ia ingin bicara banyak. Namun kata-kata tak mampu menembus bibirnya yang bergetar. Aku memeluknya untuk memberikan kehangatan, sekaligus menenteramkan hatiku sendiri yang bingung harus berbuat apa.

Wagiman supir kami memperhatikan semua itu dengan bingung, menunggu perintahku.

“Ke rumah sakit!” Perintahku dan hanya itu yang terpikir di kepalaku.

Kami melaju membelah Jalan Raya Pos, jalur Anyer-Panarukan yang dibuat Deandels semasa pendudukan nya di Hindia Belanda.

***

Hidup adalah perjalanan dan perjalanan terakhir hanyalah menuju pulang.  Kelemahan sejati manusia, ia tak mampu mengelakkan takdir. Manusia adalah makhluk yang lemah tanpa daya.

Ini hari yang kesekian aku datang  di makamnya, menghitung setiap kenangan sampai ke detail peristiwa percintaan kami. Bagaimana aku pertama mengenalnya dan mulai tertarik pada wajahnya yang mirip pria Jepang.

Dia terkesan dingin, tapi selalu memiliki kehangatan bagi semua rekan dekatnya. Bersikap pembela jika teman-temannya itu dilanda masalah.

Pak Warno penjaga makam ini sudah sangat hapal denganku. Setiap aku  akan pulang Pak Warno akan bertanya bila kiranya aku akan datang lagi. Biasanya  tanpa aku minta ia akan menyiapkan kembang untuk ditaburkan di atas makam.

Dari jarak yang tak begitu jauh ia akan memperhatikan aku, wanita yang malang ini, berbincang-bincang dengan makam almarhum suaminya. Kadang aku menangis lalu memeluk nisan dan meluruhkan air mataku di sana.

Lelaki itu meninggalkan tiga orang anak. Yang tertua sudah menjadi pelajar di SMU favorit di luar kota.  Anak-anak inilah yang menjadi motivasiku untuk terus bertahan di kota ini. Sebelum suamiku meninggal kami sudah menempati rumah yang nyaman di tengah kota, di kompleks masyarakat kelas atas. Bangunan di sekitar rumah kami menunjukkan citarasa dan pergaulan para penghuninya yang berkelas. Kami belum lama  menempati rumah ini. Suamiku sudah mempersiapkan segala sesuatunya sebelum ia berpulang.

Sore hari aku  akan berada di teras atas lantai dua rumahku. Dari sana pemandangan begitu lapang ke sekitar. Langit sore cerah selepas disiram hujan. Awan tipis bergayut menyejukkan mata. Sejak kepergian suami,  aku  merasa diriku terlahir kembali. Sikap posesifnya terkadang begitu membatasi ruang gerakku. Aku banyak kehilangan inisiatif dalam hidup dan melulu bergantung pada keinginannya. Ia bahkan memilihkan tempatku bertugas, sebagai  pegawai negeri.

Namun bagaimanapun ia sosok yang penuh perhatian dan mementingkan setiap kebutuhanku. Aku selalu menjadi prioritas baginya. Hanya cemburu yang bisa membuatnya berubah menjadi terkesan sadis. Rasa cemburunya berlebihan. Saat cemburu ia tak segan menghajar ku dengan kepalan tangan bahkan gagang sapu meski sesudahnya ia akan sangat menyesal dan meminta maaf seperti seorang bocah.

Ia pernah begitu marah ketika seseorang teman menelponku untuk bertukar kabar.  Ia menindasku dengan amarah. Sambil merintih kesakitan aku meniepon ibuku:

” Ibu mengapa diberikan nomor telponku, sakit tubuhku,” aku menangis di telepon  dan mengadu pada ibu. Menyesalinya memberikan nomor telponku pada orang yang tak tepat. Hubungan antara suamiku dengan ibu sempat dingin beberapa waktu, namun waktu jugalah yang mendamaikan mereka. Sejak itu ibuku memahami temperamental anak mantunya dan hal itu tak terjadi lagi.

Aku mencintainya dengan segala simpatinya yang lekat dengan citra posesif itu. Setelah ditinggalkannya, awalnya aku bingung bagaimana menata langkahku. Tapi bukankah hidup terus berjalan dan manusia hanya menjalani takdir yang sudah ditentukan yang kuasa? Sebagaimana kematian memisahkan, pertemuan kamipun takdir semata. Aku mengingat saat-saat yang basah di ksatrian tempat kami di gembleng, di kawah candradimuka kaki Manglayang. Toh, mesti berasal dari tempat dan budaya yang berbeda,  kami bersatu juga di pelaminan; memiliki anak-anak yang lincah dan cerdas, hidup berkecukupan secara ekonomi.

Awalnya saling mencuri tatap, lalu saling berkirim salam dan akhirnya jadi sepasang kekasih. Saat plesir kami akan mengukur jalanan di kota Bandung, mengukur setiap sudut Jalan Braga dan Cihampelas. Banyak kenangan terpahat di kota itu, kota yang pernah menjadi lautan api menggelora juga dalam lautan asmara kami. Kami meniadakan ikatan yang lain.

Sampai tekat kami di uji dengan perpisahan ketika masa pendidikan selesai. Waktu menguji sejauh mana ikatan antara kami itu, meski sempat mencoba menjalin hubungan dengan yang lain, pada akhirnya cinta mengalahkan segala hal.  Aku pindah ke kota suamiku, bergelut dalam kehidupan masyarakat di kota yang keras itu.  Mulai hidup bersama sejak dari nol. Perjalanan kami berliku namun tak pernah menyesatkan. Aku sudah memiliki peta penunjuk arah dengan menjadi wanita penurut. Semua berjalan datar. Terkadang hati kecilku  merasakan juga semacam keinginan untuk mendapatkan kebebasan menata diri sendiri, namun itu sulit kudapatkan .

Aku bertekat menjaga cinta suamiku  yang sudah berkubur dengan tenang di makam yang selalu ku kunjungi itu. Aku tak berpikir akan menemukan sosok yang tepat untuk menggantikan almarhum suamiku. Dalam hatiku  ada keyakinan kami memang jodoh dunia akhirat.

***

Seperti biasanya aku kembali mengunjungi makam itu.  Di sore yang basah selepas hujan,  matahari bersinar dengan cahayanya yang kehilangan teriknya.

Aku turun dari mobil dengan Aisah. Kami baru pulang dari berbelanja kebutuhan pokok dalam jumlah yang cukup banyak. Di masa pandemi Covid 19 seperti sekarang ini,  sungguh beresiko untuk sering berada di luar rumah, juga ke pasar. Kota kami sudah masuk dalam zona merah.

Kecuali ke makam yang tak banyak orang berkeliaran, aku tak pernah benar-benar merasa aman. kebetulan melewati penjual bunga, aku sudah membeli seikat bunga untuk kuletakkan di nisan, kebiasaan yang terasa akhir-akhir ini.

Suasana sepi, hampir tak ada siapapun  di areal itu ketika aku  membimbing Aisah berjalan melewati makam. Pandanganku terganggu sosok seseorang sedang berjongkok didekat makam.

” Seorang lelaki, siapa dia?” batinku dipenuhi  pertanyaan.  Lelaki itu khidmat berdoa seperti acuh akan kehadiranku. Ketika pandangan kami bertemu, aku dilemparkan ke dunia yang jauh, berpuluh tahun lalu. Sorot mata itu masih kukenal, bentuk alisnya yang membentuk komposisi tegas disekitar matanya, masih seperti dulu.  Kami bersalaman secara isyarat untuk menjaga protokol kesehatan. Sungguh sial bersalaman pun menjadi sulit sebab virus jahanam itu.

Aku tak mampu menghilangkan rasa kagetku akan kehadiran pria ini. ” Apa kabarmu, baik sajakah?” Ucapannya nyaris tak serupa pertanyaan, suaranya bergetar.

Aku dengan gugup meletakkan bunga ke nisan. ” Bagaimana kau bisa ada disini?” tanyaku heran, sungguh agak sedikit muskil bagiku.

Lelaki itu tak menjawab, matanya jatuh pada  rangkaian bunga yang bersender tenang pada nisan.

” Bunganya bagus,” Ujarnya, mengacuhkan pertanyaanku. Ada nada cemburu yang melintas.

***

Malam datang setelah senja pergi dan pagi menyingsing jika subuh datang dalam waktu yang konstan. Semua seolah mengingatkanku tentang perubahan hidup yang dinamis dan selalu berkembang. Situasi  dimana aku semestinya memposisikan diri, ikut bergerak dalam arus perubahan yang penuh kemestian itu, ataukah sebaliknya melawan keniscayaan itu?.

Entahlah. Aku tak mampu memutuskan apapun dan tak seorangpun lagi bisa memaksaku untuk mengambil atau tidak mengambil keputusan, terutama jika itu terkait dengan diriku dan anak-anakku.

Lelaki yang kutemui di makam itu kini duduk di ruang tamu rumahku. Tepat di tempat biasa almarhum suamiku merokok selepas makan.  Tapi lelaki ini tak merokok, aku tak tahu apakah semua tentara memang tak merokok atau ia sebuah pengecualian.

Ia berdinas di sini  sekarang, menjadi pejabat militer di kota kami. Aku rasa itu karir yang cukup moncer  untuk lelaki tegap ini. Ada baru memperhatikan ada bekas luka di atas alisnya, membuat wajahnya sedikit lebih terkesan seram.

Semestinya pertemuan ini tak terjadi. Kekesalanku terlebih lagi pada sikapnya yang memata- matai diriku. Bukankah hal itu mudah saja bagi seorang petinggi militer yang membawahi aparat intelijen. Aku tak bodoh untuk mengerti bagaimana ia dapat berada di makam suamiku, pada saat yang begitu tepat sesuai jadwal berkunjungku.

Ia merasakan kekesalanku dan mengalihkan dengan cerita macam-macam tentang dirinya, rumah tangganya yang tak bahagia, anak-anaknya yang mengikuti jejaknya. Aku tak banyak menanggapi perihal dirinya, apakah itu penting?. Namun aku berbaik hati memberinya beberapa informasi yang mungkin ia butuhkan tentang kota ini.

Lelaki inilah yang dulu membuatku harus merasakan kemarahan suamiku karena ia menilpunku. Lelaki yang pernah dekat semasa SMA dan pernah berada dihatiku. Kami punya masa lalu yang bisa dikenang bersama, seperti kala menjelajahi Taman Nasional Bantimurung. Ia ingat bersama lelaki ini mereka menamai beberapa kupu-kupu dengan nama teman sekolah mereka.

Namun ketika kembali kesana mereka tak pernah bertemu kupu-kupu yang sama. Tentu saja mereka tak dapat mengharapkan itu, seperti juga tak mungkin memaksakan sebuah ikatan yang sudah jauh  terpisah oleh ruang dan waktu.

Lelaki itu secara halus menawarkan merajut kembali semua itu. Ketika memandang punggungnya yang bidang itu menuju jeef nya, aku  tahu itu tak akan mudah dalam kondisiku sekarang ini.

Sebelum sampai dipertigaan, aku sudah memutuskan menganggap peristiwa hari ini kebetulan semata. Aku tak ingin menggubrisnya. Sesuatu yang terasa aneh, aku mulai merasa bahagia dengan kondisiku sekarang sebagai kepala keluarga sekaligus ibu rumah tangga. Aku kembali menemukan kekuatan seperti ketika ayahku meninggal saat aku baru beranjak remaja.

Meski merasa sedih menjalankan puasa ramadhan pertama tanpa suami ditengah pandemi covid 19 ini, aku yakin mampu mengatasi semua ini. (*)

Agusri Junaidi, lahir di Banjit Way Kanan 43 tahun lalu. ASN di Pemprov Lampung ini menjadikan literasi sebagai kebutuha dan dua antologi puisi tunggalnya; Lelaki Yang Menyimpan Kata-Kata di Saku Benaknya dan Wajah Musim diterbitkan oleh Siger Publisher. Ia pernah menjabat sebagai Direktur Eksekutif Lentera Lampung pada 2005 – 2008 dan saat ini aktif sebagai salah satu penggiat di Lamban Sastra Isbedy Stiawan ZS.

Facebook Comments

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*