Opini Milad Pemuda Muhammadiyah Ke-88

Hari itu, 20 Mei 1919. Langit tiba-tiba  gelap, matahari menghilang, Gunung Kelud meletus! Orang-orang segera  diliputi rasa gentar. Hujan abu dan batu yang turun, lekas memaksa  para  penduduk  di lereng gunung untuk menyelamatkan apapun yang bisa diselamatkan, meski pada saat yang sama, mereka mulai  sulit bernapas sebab udara telah mencekik rongga dada. Aliran lahar yang  mengular menghancurkan segala bentuk penghalang. Bangunan dan pepohonan roboh bertumbangan. Belasan desa raib dari peta bumi dengan ribuan korban jiwa terkubur hidup-hidup!

Demikian catatan mencekam yang terekam dalam laporan Carl Wilhelm Wormser, Pejabat Pengadilan Landraad di Tulung Agung  masa kolonial Belanda yang menjadi saksi atas bencana letusan Gunung Kelud tahun 1919. Tak kurang 5.160 jiwa melayang dengan 15.000 hektar lahan produktif  punah tak berbekas.

Sejarah kemudian mencacat, di sanalah Muhammadiyah pertama kali meneguhkan diri sebagai perhimpunan yang memanggil dirinya sendiri untuk bergerak sebagai penanggulang   bencana. Melalui Pusat Kesehatan Oemat (PKO) di bawah Kiai Suja, persyarikatan ini  menggalang donasi, mengumpulkan bermacam barang dan menghimpun bahan pangan lalu menjadikannya sebagai  jalan penolong untuk korban letusan yang sudah kehilangan keyakinan.

Lalu waktu beranjak. Kabisat satu abad  tiba di  tahun 2020. Sejarah pun berulang dengan kedatangan pandemi Coronavirus Disease  2019 (Covid-19) yang dengan cepat melumpuhkan sendi-sendi ekonomi jelata, dus mendekatkan semua hal pada kepastian bencana kelaparan.

Tentu bukan tiba-tiba ketika gerbong besar itu kembali bergerak: Muhammadiyah Covid-19 Comand Center (MCCC). Menembus keterkejutan, menjadi telaga lain di tengah bencana tak terduga pada saat semua orang mulai meyakini  datangnya petaka besar yang sedang menumbangkan jalan nafkah para jelata. Gerbong itu berisi semua Organisasi Otonom Muhammadiyah berikut para pemudanya –yang segera melompat untuk  memilih bergerak sebab tak ada lagi ruang untuk berdebat kusir!

Dari titik ini, menjadi terkonfirmasi pertanyaan tentang mengapa tema Milad Pemuda Muhammadiyah 2020 adalah rangkain tiga kebulatan  dalam meneguhkan solidaritas, menebar kebaikan dan mencerahkan semesta. Sebab ketiganya adalah guratan garis sejarah yang ketika negeri ini terancam musibah, maka dia akan datang sebagai bagian dari upaya jatuh bangun pemerintah dalam penanggulangan.

Meneguhkan Solidaritas

Ketika para sahabat Anshar mempertanyakan pembagian rampasan harta Yahudi Bani Nadir  yang mengutamakan  seluruh kaum Muhajirin, bahkan tanpa melibatkan mereka kecuali dua orang fakir Abu Dujanah dan Sahal bin Hunaif, bersabdalah  baginda Rasulullah:

“Jika kalian mau, bagikan saja rumah-rumah dan harta kalian kepada kaum Muhajirin, lalu kalian bisa ambil bagian dalam harta rampasan ini atau kalian tidak usah membagi harta dan rumah kalian, dan kami tidak membagi harta rampasan ini kepada kalian.”

Kaum Anshar kemudian menjawab secara mencengangkan: “Justru kami ingin membagi rumah dan harta kami untuk saudara-saudara kami dan kami lebih mengutamakan mereka untuk mendapatkan harta rampasan itu.”

Tengoklah sejarah ini: Atas keluasan pemahaman dan sikap Kaum Anshar, Allah kemudian mengabadikan mereka dalam satu ayat yang amat sempurna di  QS Al-Hasyr ayat (9) sebagaimana Rasulullah SAW juga bersabda: “Orang  Islam itu saudara orang Islam. Ia tidak menganiayanya dan tidak pula membiarkannya teraniaya. Siapa yang menolong keperluan saudaranya, Allah akan menolong keperluannya pula. Siapa yang menghilangkan kesusahan orang Islam, Allah akan menghilangkan kesusahannya di hari kiamat.” (HR Bukhari dari Abdullah bin Umar).

Ujian bangsa kita dalam Covid-19 kali ini, tentu saja membutuhkan ‘kerelaan untuk saling melepas ego’ sebagai  kata kuci dalam mencapai solidaritas gerakan.  Bahwa, wabah yang melanda ini adalah sebuah tanggungjawab yang memerlukan  sinergisitas saling menguatkan, menuju jalan  berlepas. Tak ada cara lain, bagi sebuah bangsa besar dengan ragam budaya, adat dan cara,  pesan solidaritas adalah bahasa cinta yang paling mungkin untuk dijadikan modal kebangkitan dalam gerakan bersama. Baik atas pandemi ini,  ataupun atas keterpurukan ekonomi terdasar yang sudah menjerat rakyat jelata di depan mata kita. Karena itu bersolidaritaslah! Lalu ringankan beban para saudara. Lihatlah bagaimana para sahabat Anshar meraih pujian Allah atas solidaritas keimanan mereka dalam berislam yang penuh rahmat dan begitulah pesan ini mengingatkan semua pemuda di bawah naungan melati dan matahari, untuk tetap memelihara tekad dalam barisan solidaritas sebagai sebenar-benar garis perpejuangan.

Menebar Kebaikan

Masih ingat kisah mahsyur Kiai Ahmad Dahlan  dalam menafsirkan Surat Al-Ma’un? Ya. Sang Kiai balik bertanya: “Apakah kalian sudah benar-benar mengerti maksud surat  itu?” atas pertanyaan satu santri yang diempas kebosanan:  “Mengapa materi pengajian tidak ditambah-tambah dan hanya mengulang-ulang Surat Al-Ma’un saja?”

Para santri yang lain lalu berkata kalau Surat Al-Ma’un bahkan sudah  mereka hafal hingga di luar kepala.

Lalu bertanya lagi  Kiai Dahlan: “Kalian sudah mengamalkannya?”

Dan para santri  menjawab: “Apa yang harus diamalkan? Surat Al-Ma’un itu sudah berkali-kali dibaca ketika salat.”

Kiai Dahlan kembali berucap: “Kalian sudah hafal, tapi bukan itu yang aku maksud. Amalkan! Dipraktekan, dikerjakan!”

Usai berkata, para santri lalu diperintahkan untuk mencari orang miskin dan anak yatim di sekitar mereka;  membawanya pulang,  merawatnya dengan baik, memberi sikat gigi, pakaian, makanan dan minuman  berikut tempat tidur terbaik.

Kiai Dahlan membangun kebaikan demi kebaikan dalam sebuah konsep besar tentang pentingnya sebuah pergerakan dijalankan dengan penuh kepekaan yang itu harus selalu diasah.  Sebagaimana perbuatan baik, amal saleh juga harus dilakukan secara tepat dan terukur tapi juga menembus batas. Seorang mukmin tidak cukup sekadar menjadi muslim atas dirinya sendiri. Dia juga memiliki tanggungjawab sosial untuk bergerak dalam masyarakat lalu saling berkorban atas nama kemanusian dan persaudaraan.

Konteks ini meneguhkan kesadaran penting bahwa, pandemi yang Allah datangkan ke negeri kita saat ini, sejatinya, juga  menunggu kehadiran peran para pemuda yang bukan sekadar ‘hapal bacaan’ atau ‘paham arah.’ Lebih dari itu, dia menunggu kerelaan dalam satu gerakan yang harus digerakan. Gerakan yang tanpa daftar kutukan sebab kebaikan, sebagaimana juga kemanusiaan, haruslah jernih dari  sekat dan batas.

Mencerahkan Semesta

Suatu hari Rasulullah SAW mengirimkan beberapa pucuk surat pada para raja untuk menawarkan kebahagiaan dan keselamatan, baik saat masih hidup, juga sesudahnya. Dengan kecerdasan berdiplomasi, beliau memastikan sebuah jalan berbeda atas hal biasa namun dengan cara penuh rahmat dan  meneguhkannya. Sebagian raja-raja itu ada yang menolak, tapi ada juga yang menerima. Namun beliau tetap memosisikan diri sebagai  pencerah bahkan di masa yang memaksa harus dilakukan peperangan. Beliau melarang perusakan tempat ibadah, melarang menghancurkan fasilitas umum, melarang memerangi pemuka agama, kaum wanita, anak-anak, orang lanjut usia juga pasukan yang sudah tak berdaya. Perintah memelihara perdamaian berada di atas banyak hal, sebagaimana perintah memaafkan bagi mereka yang kalah menjadi pilihan utama di atas semua pilihan. Tentu saja, semua itu kian membuktikan pekerti  beliau sebagai utusan langit dalam mencerahkan semesta alam.

Maka teranglah catatan tentang tema yang diusung Pemuda Muhammadiyah dalam Milad kali ini. Bahwa, dia adalah sebuah pesan besar yang sarat gerakan dengan lapis demi lapis pintu maaf dan itulah kesimpulan atas tiga keteguhan di atas. Hanya dengan meluaskan pintu maaf, kita akan semakin kuat untuk meneguhkan solidaritas, menebar kebaikan, dan mencerahkan semesta. Ketidakadilan, yang acap kita pahami sebagai ‘teriakan yang tersumbat’ di kalangan akar rumput, akan selalu menjadi temuan  ketika  kita menyelam ke  dasar-dasar kemiskinan. Dan sikap Pemuda Muhammadiyah yang tersari dalam tema Milad kali ini,  seakan kian meneguhkan cahaya maaf  itu untuk terus menguatkan kualitas pergerakan. Tanpa kutukan,  juga tanpa kambing hitam.  Dan kita, tak akan pernah kekurangan maaf untuk terus menegaskan sebuah kesungguhan sebagai jalan mencintai negeri ini.

Wallahu’alam.

Penulis aktif sebagai Ketua Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah (PDPM) Kabupaten Mesuji Provinsi Lampung.

.

 

Facebook Comments

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*