BPBD Mesuji Bingung?

MESUJI. Bencana angin putingbeliuang yang melanda  Kabupaten Mesuji pada Rabu (20/05) juga melumat areal persawahan di Desa Wirabangun dan Bangunmulyo.  Batang padi di beberapa titik sawah dua desa itu patah dan roboh, malai padi terendam.

Warni (35), salah satu petani Desa Bangunmulyo merasa  masih beruntung sebab padi miliknya sudah waktunya dipanen. Namun akibat bencana itu,  ia tetap harus mengeluarkan biaya tambahan.

“Padi harus didirikan lagi lalu diikat, sebab kalau kelamaan terendam akan membusuk. Makanya harus ada yang bantu kerja agar jangan terlambat,” ucapnya, Kamiis (21/05).

Ditambahkannya,  biaya lain yang juga harus ditanggung adalah membengkaknya upah panen. Pada posisi normal,  pembagian upah panen berada pada kisaran 10:1 atau 9 (sembilan) karung untuk pemilik sawah: 1 (satu) karung untuk mesin panen.

“Tapi dengan kadaanseperti ini, Coper (Combine Harvester atau mesin pemanen padi-red) minta pembagiannya 6:1, sebab panen makan waktu lebih lama dan lebih sulit,” imbuh warni.

Yang lebih miris, masih menurut Warni, adalah mereka yang padinya masih hijau.

“Seperti  sebelah saya ini,” terangnya. “Yang punya tak mau datang lagi sebab percuma saja. Kalau padi masih hijau, walaupun ditegakan dan diikat,  tetap  akan busuk. Apalagi, sekarang mulai musim Wereng.”

Dikonfirmasi terkait hal ini, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Mesuji,  Drs. Syahril,  mengaku akan mendata kerugian yang ditimbulkan  lalu melaporkannya pada Bupati Mesuji.

“Setelah itu, atas petunjuk Pak Bupati, akan kita ambil langkah-langkah,” kata Syahril.

Namun saat ditanya terkait update  hitungan sementara hasil pendataan rumah dan sawah yang terkena bencana,  baik Syahril maupun Sekretaris BPBD, Ngadiman, tak bersedia menjawab.

Laporan/Editor: Fajar

Facebook Comments

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*