Wawancara Khsusus Kades Mesuji Pendonasi Setahun Gaji  

MESUJI. Dampak pandemi Coronavirus Desease Tahun 2019 atau Covid-19 yang menyerang Indonesia, mengguncang kondisi perekonomian masyarakat akar rumput dari kota hingga desa. Kondisi ini kemudian mendorong pemerintah menggelontorkan berbagai jenis kewajiban negara dalam bentuk paket bantuan dengan berbagai model. Sayangnya, di lapangan, berbagai  kejadian tak sedap  muncul terkait tata pembagian yang dinilai sebagian pihak tidak tepat sasaran.

Lalu keteladanan datang dari Desa Mekarsari  Kecamatan Tanjungraya Kabupaten Mesuji. Alih-alih  dililit persoalan pendataan calon penerima bantuan, Sunardi, sosok Kepala Desa (Kades) Mekarsari justeru mendonasikan satu tahun gajinya untuk membantu masyarakat yang terdampak Covid-19 di desanya.  Bagaimana gerakan Kades muda ini? Berikut petikan wawancara Deterksilampung.com dengan sang Kades:

Akhir-akhir ini beberapa desa disibukan dengan tumpang tindihnya data penerima bantuan masyarakat  yang terdampak Covid-19, Anda  juga mengalaminya?

Alhamulillah tidak. Boleh dibilang kami baik-baik  saja.

Bagaimana  mekanisme pendataan yang Anda lakukan?

Jadi begini, ketika pertama kali perintah tentang Bantuan Langsung Tunai (BLT) Dana Desa (DD) disampiakan dan disebutkan bahwa penerimanya  tidak boleh doble,  saya coba memahami dan membaca beberapa  aturan  baik dari Kementerian Desa, Kementrian Keuangan juga  Kementerian Sosial. Termasuk Surat Edaran atau  aturan Pemerintah Daerah melalui Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa ( PMD) serta arahan Camat. Setelah itu, kami mulai menyisir data-data bantuan lain terlebih dahulu. Misal, di Desa Mekarsari ini ada 54 penerima Bantuan Program Keluarga Harapan (PKH),  itu kami sisihkan; penerima  BST kami sisihkan, begitu juga dengan  penerima Rastrada. Semua kami sisihkan terlebih dahulu.

Setelah itu?

Kami mulai melakukan ploting untuk  BLT DD dari 30 persen pagu DD tahun berjalan.  Dari jumlah itu,  sesudah kami pilah-pilah tadi, maka didapati  angka sebanyak 171 Kepala Keluarga (KK) sebagai calon penerima BLT DD. Per orang dialokasikan  sebesar 1, 8 juta selama 3 (tiga) bulan  dengan rincian Rp. 600 ribu per KK per bulan. Kami juga mendata penerima  BST untuk Kementerian Sosial RI dengan  jumlah  180 KK meski yang terealisasi hanya  88 KK. Sisanya yang belum terdata sebanyak  92 orang  kami arahkan sebagai calon penerima  B2SA  dari provinsi. Nah,  sisanya lagi, kami alokasikan sebagai penerima Bantuan Sembako Penanggulangan Covid-19 dari Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Mesuji.

Angka sebesar Rp. 600 ribu per orang itu didapat dari mana?

Sudah aturannya seperti itu. Semua desa se Kabupaten Mesuji tinggal menetapkan saja.

Semua masyarakat bisa mengakses  data-data penerima bantuan  itu?

Sangat bisa. Semuanya terbuka dan kami buka.

Di mana?

Kami  menempel data-data penerima bantuan tersebut di papan informasi desa di Balai Desa sehingga mudah untuk  diakses oleh siapa saja. Kami   juga mempublikasikannya  lewat media sosial seperti Facebook  dan lainnya.

Tentang  calon penerima, Anda memakai kategori 14 kreteria dari kementerian atau ada acuan lain?

Dengan kondisi masyarakat yang hampir sama, kami tidak bisa memaksakan kreteria itu sebab kondisinya memang berbeda.  Lagi pula, dalam konteks  covid-19, semua masyarakat pada dasarnya terkena dampak dan karena itu,  kami memilih untuk memakai sudut pandang yang benar-benar membutuhkan dan harus didahulukan. Misal  para yatim, penyandang distabilitas atau mereka  yang tidak memiliki tempat tinggal dan bekerja serabutan atau buruh harian lepas.

Di awal-awal pandemi Covid-19, Anda dikabarkan  sempat mendonasikan  setahun gaji untuk masyarakat terkait pandemi ini.  Itu betul?

Jadi begini, pada saat pemilihan Kepala Desa Mekarsari yang kedua beberapa waktu lalu,  saya memang sudah berjanji pada diri sendiri bahwa,  jika  saya kembali terpilih maka setahun gaji saya akan saya donasikan pada masyarakat. Nah, beberapa bulan pasca dilantik pada Januai 2020, pandemi virus Corona terjadi dan kita tahu, hal  ini membuat perekonomian masyarakat menjadi amat sulit.

Dan Anda memilih untuk segera menunaikan janji itu?

Ya. Saya pikir, mungkin inilah waktu yang tepat untuk menunaikannya meski yang bisa  saya bagikan  baru  9 (sembilan)  bulan.  3 (tiga) bulan selebihnya akan segera saya laksakan secepatnya. Oh, ya, sebagai catatan, sampai dengan hari ini, saya bahkan belum genap satu tahu menjabat sebagai Kades di periode ini.

Jika dikalkulasi, berapa jumlah yang sudah anda keluarkan?

Dari gaji yang sembilan bulan itu?

Ya.

Totalnya  27 juta.  Gaji saya  per bulan  sebesar Rp 3 juta dikali  9 bulan.   Uangnya  saya  belikan bahan pangan  seperti telur, beras, minyak goreng  dan masker  lalu dibagikan ke masyarakat.

Ada dampak positif dari keputusan ini?

Di  luar dugaan saya, banyak bantuan yang akhirnya mengalir ke desa saya setelah itu.

Selain keuangan yang bersumber dari  DD, ada Pendapatan Asli Desa (PADes)  yang lain?

Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) kami  Alhamdulillah berjalan. Kami memilki  warung serba ada (Waserda) yang dikelola Bumdes, juga hasil sewa lost pasar pertahun yang  kita masukan ke dalam Pendapatan  Asli Desa (PADes). Dari sana kami  berhasil menggali  keuangan desa yang salah satunya dialokasikan untuk memberi insentif  Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM),  pengurus rumah ibadah, Karang Taruna,  juga Operator Desa.

Setiap bulan?

Ya. Setiap bulan. Bahkan  di luar itu, sejak awal menjabat, saya  sudah mengalokasikan  Tunjangan Hari Raya (THR) bagi  Kader Posyandu, Kader Lansia, Perangkat Desa, BPD, Linmas dan  Karang Taruna yang berjumlah sekita  80 orang.

Dalam berbagai kebijakan termasuk ketika Anda akhirnya memutuskan untuk mendonasikan penghasilan yang sebenarnya itu adalah hak Anda  yang  sah,  siapa yang paling berpengaruh?

Isteri saya.

Isteri Anda terlibat langsung?

Bukan terlibat tapi mendukung. Dia bilang; selama saya masih diberi kesempatan dan kesehatan,  juga sejauh  semua keputusan itu bertujuan baik bagi masyarakat, dia akan selalu mendukung.  Bukankah orang yang paling baik adalah mereka yang  paling bermanfaat bagi orang lain? Terus terang, saya merasa  bangga menjadi Kepala Desa. Sebab dari sini saya bisa  ikut menyelesiakan persoalan-persoalan yang dihadapi masyarakat.

Andai pandemi Covid-19  terus berlangsung, apa yang  akan Anda lakukan?

Yang jelas,  semua sarana  fisik yang belum terlanjur dilaksanakan akan kami tunda pelaksanaannya. Keuangan desa akan  kami alihkan untuk membantu ekonomi  masyarakat yang terdampak.

Terakhir, apa pesan Anda untuk masyarakat Desa Mekarsari?

Saya kira tak  ada yang lebih penting dari  bekerja sesuai aturan sebagai upaya membela nama baik Mesuji.  Khusus bagi masyarakat Desa Mekarsari, silakan kritik saya jika ada yang kurang tepat. Sejauh kritik yang bersifat membangun, silakan disampaikan meski lewat media sosial (Medsos). Atau sebaiknya langsung saja ke perangkat desa atau  ke saya agar bisa dicarikan solusi terbaik.

Terimaksih atas waktunya.

Sama-sama, Mas. Sekalian saya juga ingin menyapaikan selamat Hari Raya Idul Fitri 1441 Hijriah. Mohon maaf lahir dan batin.

Pewawancara/editor: Fajar

Facebook Comments

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*