Ketika Ritno Berkata: “Gitare Nggak Stel.”

MESUJI. Pemerintah Daerah Kabupaten Mesuji tidak mungkin menyelesaikan berbagai persoalan masyarakat yang sedemikian kompleks hanya seorang diri. Oleh karena itu,  sinergisitas dengan berbagai pihak menjadi  hal yang penting untuk terus dilakukan.

Demikian disampaikan Bupati Saply TH dalam sambutannya saat menghadiri Deklarasi Komunitas Distabilitas Mesuji di halaman Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) Mesuji, Desa Bujungburing Kecamatan Tanjungraya (21/07).

Bupati Saply TH yang didampingin Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Mesuji, Syamsudin, S.Sos, MM, menambahkan, dengan kesungguhan dan kebersamaan, maka hak para penyandang distabilitas di Kabupaten Mesuji akan dapat terpenuhi dengan baik.

“Kita berharap kehadiran komunitas ini dapat benar-benar menjadi mitra strategis bagi Pemerintah Daerah,” ujar dia.

Kepada wartawan,  Saply TH mengungkapkan meski secara struktur SLB berada dalam  kewenangan Pemerintah Provinsi Lampung, namun jika memang diminta, Pemkab Mesuji siap mengirimkan tenaga PNS yang cakap untuk mendukung kegiatan KBM di SLB.

“Saya kira itu bisa saja (jika Pemprov meminta). Dan Pemkab Mesuji akan mengizinkan (Guru PNS Mesuji) untuk membantu kegiatan belajar mengajar meski mungkin, waktunya diatur seminggu sekali (agar tidak mengganggu tupoksi yang bersangkutan),” ujar Bupati.

Ditanya kemungkinan lain terkait bantuan Pemkab Mesuji, Saply menyebut hal itu bisa diberikan melalui Komunitas Distabilitas.

“Sifatnya hibah untuk kegiatan komunitas,” ujar Bupati.

Sekdakab Mesuji yang merasa terkesan dengan acara deklarasi itu menyampaikan, saat ini siswa distabilitas yang aktif belajar tercatat 62 orang.

“Bahkan ada yang dari luar Kabupaten Mesuji,” ujar Syamsudin. “Dan sesuai penyampaian Kepala Sekolah, terdapat penambahan siswa baru sebanyak 12 orang di tahun ini.”

Ketua Komunitas Ditabilitas Mesuji, Andi Sudibyo,  menyambut baik dukungan ini. Kepada awak media, Andi mengatakan pendirian  komunitas ini berawal dari rasa kepedulian yang kemudian dimplementasikan dalam bentuk gerak kelembagaan.

“Melalui komunitas ini kita mencoba menjadi fasilitator bagi anak-anak penyandang distabilitas  agar dapat mandiri secara ekonomi,” ujar Andi.

Wakil Kepala Sekolah SLB Mesuji, Gusnanda Amalia, S.Pd, menambahkan, meski sudah berjalan selama 3 tahun dengan 62 siswa, keberadaan para guru yang bersesifikasi ketunaan masih sangat kurang.

“Idealnya, per satu  guru menangani maksimal 5 siswa. Bahkan untuk kategori autis,  satu anak satu guru,” kata Amalia.

Akibat kurangnya tenaga pangajar yang berspesifikasi khusus ketunaan, masih menurut Amalia,  pembelajaran akhirnya dilakukan dengan sitem Rombongan Belajar (Rombel).

“Beberapa ketunaan kita gabungkan dalam satu Rombel agar semua bisa tertangani,” jelas dia.

Selain dimeriahkan berbagai atraksi tarian anak-anak distabilitas, acara deklarasi juga diramaikan oleh penampilan Ritno (28), siswa tunanetra tertua yang menyumbangkan lagu Jawa, Nyidam Sari.

Gitare Nggak stel,” celetuknya di awal penampilan.

Panitiapun bergegas mengambil gitar pengganti lalu memberikannya kembali.

“Lha, iki baru pas!” ujarnya yang segera disambut gelak tawa.

Laporan/Editor: Fajar

Facebook Comments

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*