Opini Jhon Tanara

Perhelatan Seni dan Budaya yang seyogyanya akan digelar pada 23 September 2020 mendatang, dengan sangat berat, akhirnya ditunda. Kepastian itu saya dapatkan melalui pemberitaaan media online beberapa hari terakhir pasca status zona Covid-19 Mesuji berubah memburuk.

Meski tak seberapa terkejut dan berusaha memahaminya sebab ini terkait berpindahnya zona Mesuji dan hijau ke kuning, tapi tetap saja, pembatalan itu membuat saya terdiam sejenak. Lebih dari sekadar kecewa, saya  sangat memahami kalau kegiatan itu memang sudah dirancang untuk digelar oleh lintas Organisasi Perangkat Daerah (OPD) bersama para penggiat seni yang ada di Mesuji.

Ingatan saya pun lantas tertuju pada sebuah malam yang saya tak akan pernah  melupakannya. Malam yang dengan pelan saya sebut sebagai cara mencintai Mesuji tanpa luka. Malam yang saya yakini adalah bagian dari waktu terbaik saya untuk menyimpan sejumput kenangan.

Malam itu, saya mendatangi sebuah tempat baru yang setelah saya ketahui dari para penggiat seni yang berhimpun di sana, adalah semacam wahana berekspresi. Para seniman dalam komunitas menyebutnya dengan Half galery. Tempat mereka bernaung dan menamakan diri sebagai Komunitas Rewang Seni Mesuji.

Tapi baiklah. Abaikan saja nama itu. Yang jelas, sejak malam itu, saya lantas berpikir untuk memulai tulisan ini.

Ada banyak hal yang membuat saya terlena di antara embun yang mulai merayap ketika itu. Terpesona. Atau entah apa lagi. Dan itu bermula dari meleburnya segenap keterkejutan sebab di sini, ternyata, ada banyak aktivitas penggiat seni Mesuji yang bahkan saya belum mengenalinya. Salah satunya adalah  seorang pria berambut gondrong dengan penampilan khas seniman.

Orang-orang memanggilnya, Ayah Ari; sosok yang tanpa ia sadari sudah menjadi inspirator bagi semua hadirin. Dia pemilik Half gallery ini dan berpenampilan sangat bersahaja, meski sekilas, dengan keyakinan bahwa kami belum pernah saling berkomunikasi, saya melihat beliau tak ubahnya percikan sebuah permata. Ya. Permata yang saya yakini kelak akan memunculkan permata-permata lain yang tidak saja penuh ghirah namun juga membara.

Lama saya terdiam merenungi sosok  itu. Hinga akhirnya, entah mengapa, diam-diam saya berharap komunitas ini, kelak, akan memiliki wadah yang legal dan dilegalkan oleh Pemerintah Daerah. Sebab di mata saya, itulah hal yang sama sekali tak salah agar ketika orang-orang bertanya tentang Mesuji di esok hari, maka mereka akan menjawab dengan menunjukan kejernihan cinta atas tanah ini.

Makin lama saya makin asyik merenungi kemungkinan itu. Merenungi sebuah mimpi besar tentang satu komunitas kecil yang terus bergerak mengabar cinta. Mungkin, itu juga yang kemudian membuat saya, pada akhirnya, merasa perlu untuk kembali berada di sini di lain waktu. Berada untuk belajar banyak tentang mencintai Mesuji, juga menyayanginya.

Tentu saja, atas semua hal itu, pada akhirnya, saya harus mengucapkan terimaksih pada para penggiat kegiatan itu. Terimakasih sebab sudah diundang  menjadi saksi atas banyak hal  yang mengejutkan. Terimakasih karena sudah menjadikan saya sebagai bagian dari gerakan dinamis membangun Mesuji dengan jiwa. Mohon maaf sebab belum bisa banyak membantu sebagaimana kawan-kawan media yang selalu memiliki bagian yang benar dengan caranya.

Saya sadar, pada akhirnya, saya memang harus menyimpan banyak hal sebelum menutupi tulisan ini. Tapi percayalah, pada akhirnya, saya akan kembali ke sini untuk berkata: Kawan, apakah ini cara kita mencintai Mesuji dengan tanpa luka?

Jhon Tanara adalah Aleg DPRD Kabupaten Mesuji dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Tinggal dan menetap di Tanjungraya, Mesuji.

Facebook Comments

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*