Catatan Untuk Saudaraku, Agus Munawar

ADA hal berbeda yang melingkupi perasaan saya saat pertama kali  mendengar  nama Agus Munawar atau yang karib disapa Gus Mu terpilih secara aklamasi dalam Konferensi Cabang (Konvercab) Gerakan Pemuda (GP) Anshor Kabupaten Mesuji,  pada 18 Okober 2020. Hal berbeda yang, bagi sebagian orang mungkin biasa saja. Hal berbeda yang, sejujurnya,  sudah saya tunggu sejak lama. Hal berbeda yang, secara ekplisit saya sebut sebagai ekspresi bahagia!

Meski tidak hadir dalam perhelatan itu, saya mencoba membayangkan betapa humanisnya proses konfercab. Dan, tentu saja, bisa dibilang, berjalan relatif cepat.

Ikhwal Konfercab sendiri sudah saya ketahui malam sehari sebelumnya. Melalui benner online dari beberapa kolega Gus Mu di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Mesuji, yang bertebar di akun  Facebook. Adalah Jhon Tanara, kolega Agus Munawar di Fraksi Kebangkitan Bangsa DPRD Mesuji yang memberi saya semacam kabar baik bahwa,Gus Mu adalah salah satu kandidat dalam Konfercab yang akan dihelat.

Sejatinya, di mata saya, sebagaimana  Jhon Tanara, Agus Munawar sama sekali bukan orang baru. Beberapa tahun lalu kami pernah sama-sama berada dalam satu gerbong sebagai Pendamping  Desa pasca diberlakukannya Undang-undang Nomor 06 Tahun 2014 tentang Desa. Saya bertugas di Kecamatan Wayserdang, Jhon di Tanjungraya, sedang Agus Munawar, mewakili kecamatannya yang berada paling jauh: Rawajitu Utara.

Waktu benar-benar mempertemukan kami di masa itu. Tak ada yang menjadi sekat kecuali kebersamaan.  Sampai kemudian,  saya akhirnya memutuskan untuk mengambil jalan berbeda  dengan satu  alasan yang terus saya simpan. Pendek kata, kami pun berpisah jalan.

Di tahun-tahun itu, boleh dibilang, saya lebih banyak aktif  di luar Mesuji sebagai bagian dari Lamban Sastra Isbedy Stiawan ZS, sambil sesekali menerbitkan novel yang tak seberapa, juga menulis beberapa fiksi dan non fiksi. Kami tak lagi saling kontak. Dalam waktu agak lama. Tenggelam dalam  kesibukan masing-masing dan hanyut di dunia yang sudah sama-sama  diterjuni.

Pasca saya kembali aktif di Mesuji, sekira setahun yang lalu, kami bertemu lagi dengan, tentu saja, dalam posisi yang benar-benar berbeda. Saya menggerakan  media online, Deteksilampung.com sebagai jurnalis –dan sesekali masih sempat juga menulis fiksi– sedangkan Agus Munawar dan Jhon Tanara, kini menjadi Anggota DPRD Fraksi PKB hasil Pemilu 2019.

Komunikasi kami kembali tejalin. Cukup  intens. Dan puncaknya, adalah pasca keterpilihan saya sebagai Ketua Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah (PDPM) Kabupaten Mesuji dalam Musyawarah Daerah  (Musyda) yang dihelat di SMA Muhammadiyah Mesuji Timur, pada Maret 2020. Saya dan Gus Mu berulang  bertemu, begitu juga dengan Jhon. Dan kami mulai mendiskusikan isu-isu keumatan, juga potensi dan tantangan Mesuji ke depan.

Saat itu, Agus Munawar berkata pada saya: “Kawan-kawan Anshor ikut bahagia atas keterpilihan sampean, Mas,” yang setelah mendengarnya, saya segera meyakini bahwa, kami, sungguh adalah anak-anak harokah yang begitu ingin menjadikan cinta sebagai cara saling mengingatkan, juga menyayangi.

Saya tak menjawab Agus ketika itu. Tidak juga membantah atau beralibi. Alih-alih menghanyutkan semua rasa, kami pun akhirnya mencoba bersepakat untuk merancang sebuah diskusi bertema cinta dengan latar perjuangan dua ulama besar milik negeri ini: K.H Hasyim Asy’ari dan K.H Ahmad Dahlan.

Lalu pandemi Covid-19 tiba. Semua gerakan set back dan tertunda. Tak ada lagi bahasan tentang diskusi itu meski tetap saja kami sering bertemu baik dalam beberapa kali masa Sidang Paripurna atau pun di rumah Jhon atau di Rawajitu Utara. Sesekali, diskusi kami bahkan bergeser ke ranah politik praktis meski di kali yang lain, kembali membicarakan banyak hal tentang keumatan.

“Debat kusir tentang khilafiyah sudah waktunya dilupakan, Mas,” kata saya dalam sebuah kesempatan saat Agus Munawar meminta untuk mengisi obrolan ringan dengan para anggota Kelompok Tani binaannya.

“Saya sepakat, Bang,” jawab Agus. “Terlalu banyak  hal yang lebih penting untuk dibahas dan dikerjakan.”

Begitu diplomasi Agus Munawar kala itu.

Maka demikianlah. Kami pun mulai saling meneguhkan. Menguatkan keyakinan bahwa, organisasi tempat  bernaung  ini, hanyalah wasilah untuk terus memperbaiki diri dan sikap, baik di masa sekarang maupun yang akan datang.

Dan karena itu pula, pasca Konfercab yang akhirnya meneguhkan Agus Munawar di Cabang Anshor Mesuji, saya hanya ingin berkata: Selamat mengemban amanah,  Mas. Selamat menapaki jalan terjal, di era digital. Dalam garis ini kita akan selalu bertemu untuk saling menguatkan juga menyayangi. Sebagaimana teladan Baginda Rasulullah SAW dan para ulama terdahulu,, juga para tabiin.

Saya, saudaramu, sungguh, ikut merasa berbahagia atas keterpilihan ini.

Fastabiqul khairat.

Facebook Comments

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*