Coretan Untuk Agus Munawar

KONFERENSI  Cabang (Konfercab) Gerakan Pemuda (GP)  Anshor Kabupaten Mesuji sudah selesai dihelat.  Kader terbaiknya,  Agus Munawar, akhirnya resmi terpilih  sebagai nahkoda  ormas kepemudaan yang memiliki banyak anggota di Bumi Ragab Begawe Caram.  Agus Munawar, atau yang karib disapa Gus Mu, juga adalah anggota DPRD Kabupaten Mesuji Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (F-PKB) hasil Pemilu 2019.

Banyak tokoh lokal yang lantas memberikan ucapan selamat pasca Konfercab yang digelar di Taman Pendidikan Alquran (TPA) Nurul Hidayah, Desa Harapan Jaya, Simpanpematang, pada 18 Oktober 2020 itu. Ucapan-ucapan tersebut terekam cukup intens  di berbagai media sosial terutama Facebook dan WhatsApp (WA) dalam bentuk banner template.  Sebut misalnya, Ketua PC Nahdhatul Ulama (NU) Kabupaten Mesuji, Abdul Karim Mahfud (Gus Karim), beberapa anggota DPRD Kabupaten Mesuji lintas fraksi, para Kepala Desa, juga ketua-ketua organisasi kepemudaan lainnya.

Berangkat dari realitas itu, sebagai salah satu pemuda yang bermukim di Kabupaten ini (setidaknya usia saya belum menyentuh angka 50 tahun), akhirnya saya memberanikan diri juga untuk menorehkan coretan ini.  Ya. Hanya semacam coretan. Sebab sebuah catatan tentang keterpilihan Agus ini, sebelumnya sudah ditulis oleh Ketua Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah (PDPM) Mesuji, Fajarullah yang juga adalah seorang penulis dengan nama pena Fajar Mesaz.

Baiklah. Saya mulai dengan satu kalimat yang pernah disampaikan Albert Einstein sebagai penemu Teori Relativitas. Einstein berkata: “Tuhan tidak sedang bermain dadu.”

Dalam pemahaman saya, arti dari rangkaian kata itu adalah bahwa, semua hal yang terjadi di atas bumi ini, baik yang nyata atau yang tidak,  pada dasarnya,  memang  sudah diatur dengan cermat dengan semua detailnya dan sama sekali tak ada yang kebetulan.

Demikian pula halnya dengan Konfercab kemarin.  Semua  tahapan hingga akhirnya Gus Mu didaulat menjadi nahkoda bahtera  GP Anshor Kabupaten Mesuji, sejatinya,  adalah sebuah  takdir (Destiny) yang memang seharusnya terjadi atas The right man on the right place at a right time.

Melalui beberapa media yang mempublikasikan keterpilhan itu, dalam masa kepemimpinannya empat tahun ke depan, ada tiga poin yang menjadi tujuan Agus Munawar. Pertama, internalisasi nilai Aswaja dan Sifatul Rosul bagi organisasi.  Kedua, membangun disiplin organisasi dan kaderisasi berbasis profesi, sedang yang terakhir, adalah mempercepat kemandirian ekonomi organisasi.

Terkait hal itu, saya tentu saja  tidak akan membahasnya secara mendalam karena murni urusan internal organisasi. Yang pasti,  dengan tiga poin tersebut, tampak jelas kalau Gus Mu menginginkan  GP Anshor bukan saja menjadi garda terdepan bagi pembangunan di Mesuji, tetapi juga menjadi motor penggerak.

Inilah yang membuat saya tergerak untuk menyampaikan hal-hal yang menjadi buah pikir dalam beberapa kali pertemuan saya dengan Agus dalam kali diskusi ringan dan singkat kami; sebuah obrolan sederhana namun penuh cinta, ditemani Ketua PDPM Kabupaten Mesuji, Fajarullah.

Sejujurnya, meski berbeda akidah dengan keduanya, dalam banyak hal, kami memiliki banyak kesamaan dan saya juga percaya bahwa, ini sama sekali bukan sesuatu yang kebetulan. Terutama dalam konteks melihat Indonesia dalam lanskap Mesuji.

Pertama, Kabupaten  Mesuji harus dibangun dengan segenap hati, pikiran, kemampuan juga cinta. Termasuk berkorban tenaga dan materi agar  ia menjadi tempat yang layak untuk diwariskan kepada generasi selanjutnya yang dengan bangga, pada masanya kelak, akan juga menjadi persembahan bagi anak dan cucu.

Dalam beberapa kali obrolan itu, kami seolah sepakat untuk semacam menjaganya dengan tidak melakukan apa yang diistilahkan sebagai  membocorkan kapal sementara kami sedang berlayar di dalamnya. Kami mempunyai geram yang sama saat melihat banyak yang berbicara membangun Mesuji tetapi  justeru dengan memutar skrup kapal  ke haluan tak jelas arah.

Kita sepakat bahwa, kehidupan yang hanya ditujukan untuk kepemilikan benda-benda semata, pada dasarnya adalah kehidupan yang mati. Tak ubahnya seperti kehidupan  puntung. Kita juga bersepakat kalau hidup adalah jalan terang untuk memberikan sebanyak mungkin bagian pada sebanyak mungkin orang dan bukan sebaliknya.

Sampai titik ini, saya harus mengakui bahwa, saya merasa sangat bangga menjadi saudara kandung se-ibu pertiwi dengan Ketua PDPM, Fajaullah dan   Ketua GP Anshor, Agus Munawar dalam kapasitas  saya sebagai Ketua Pemuda Badan Kerjasama Sama Antar Gereja (BKSAG) di Kabupaten Mesuji.  Keberadaan posisi ini justru membawa kami pada pengertian sebenarnya tentang persatuan, juga keberagaman (unity in diversity) dalam bingkai Bhineka Tunggal Ika.

Oleh kerenanya, atas semua itu, kami kemudian saling meneguhkan hati untuk –meminjam istilah kekinian- mengambil jalan ninja.  Fajar menyebutnya sebagai jalan terjal di era digital; saya mengatakannya sebagai  jalan sunyi  tanpa tepuk  atau  kalungan bunga tapi duri dan kerikil tajam. Dan kita pun  memilih menjadi pelita yang terus bergeliat meski cahayanya amat kecil.

“Karena Mesuji butuh cahaya itu, Gus,” bisik saya dalam satu kesempatan saat Agus memutuskan menjadi kawan bicara yang segar dalam sebuah malam di alun-alun Simpangpamatang, di ambang Konfercab.

Dan kali ini, karena Gus Mu sudah terpilih menjadi nahkoda PC GP Anshor di Mesuji, saya,  dengan segenap hati saya, hanya ingin menjadi bagian dari orang-orang yang terus menyemangatinya. Bahwa,   pelaut yang handal tidak lahir dari laut yang tenang, Gus. Pelaut handal hanya akan lahir dari  ganasnya hantaman ombak, kencangnya sapuan badai, juga terjalnya rintangan batu karang.

Selamat atas keterpilihanmu, Saudaraku  Agus Munawar. Tuhan besertamu.

Selain aktif sebagai jurnalis dan Dewan Penasehat (Wanhat) Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Cabang Kabupaten Mesuji, Juan Santoso Situmeang juga adalah Humas Panitia Persiapan Pemekaran Kabupaten Mesuji (P3KM) sebelum terbentuknya Kabupaten Mesuji Tahun 2008.

Facebook Comments

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*