Menengok Kearifan Emak-emak di Reses Jodi Saputra

MESUJI.  Ujung daun pepohonan karet di sisi kanan halaman rumah papan itu bergerak  ke Utara.  Pelan. Agak melambai dan waktu menunjukkan tepat  Pukul 12.30 WIB. Langit Mesuji Timur sama sekali tak menampakan tanda-tanda akan turun hujan. Matahari siang yang masih  terik terus  saja menyapa  semua bentangan hari.

Jodi membuka pintu mobil. Menatap ke sela-sela pintu rumah yang terbuka yang pada  bagian ujung daun pintunya bertebar sandal jepit berbagai warna. Semua berpasangan.

“Ibu-ibu semua?” tanya  Jodi pada koleganya, Tuti Handayani (23/02).

Keduanya adalah Anggota Legislatif (Aleg)  DPRD Kabupaten Mesuji asal Partai Nasdem yang datang dengan mobil terpisah dan dari titik yang juga berlainan. Jodi berangkat dari rumahnya, di Wiralaga Kecamatan Mesuji,  sedangkan Tuti bertolak  dari kediamannya di Desa Margojadi, Mesuji Timur. Mereka datang  dalam rangka Reses  Masa Sidang ke-2 Anggota Legislatif (Aleg) Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD)  Kabupaten Mesuji pada Daerah Pemilihan (Dapil) Kecamatan Mesuji Timur (Mestim) tahun 2021.

Di langit, mendung masih belum benar-benar tampak.

“Para Kelompok Wanita Tani (KWT) dan sebagian pembudidaya jamur,” sahut Tuti.

Jodi diam sejenak. “Pas kalau begitu!” bisiknya. “Sesuai dengan  komisi kita,” tapi Tuti tak lagi menjawab melainkan langsung memasuki  pintu.

Jodi sendiri tidak segera melangkah melainkan kembali membuka pintu mobil untuk mengambil buku catatan bersampul biru tua. Sebelum ikut memasuki rumah, dua wanita yang berdiri di muka pintu  bergegas menyambut  dia sambil  merangkupkan kedua tangan.

“Selamat datang,  Pak Dewan!” ucap salah seorang.

“Terimakasih, Bu,” jawab Jodi lalu membalas  dengan merangkupkan tangan, sedikit menurunkan dagu. “Maaf, sudah menunggu terlalu lama,” dia kembali berucap  dengan suara yang lebih pelan dari sebelumnya.

Kedua perempuan itu membalas  tersenyum kemudian mempersilakan Jodi melangkah, masuk  lebih dulu.

Di ruangan berukuran 3×5 meter,  Jodi sama sekali tak mengulurkan tangan  kecuali sedikit membungkuk dengan mulut rapat tertup masker.  “Sosial destencing,” ucap dia  dan beberapa orang terdengar menjawab dengan menyebut kata covid dan corona.

Waktu berlalu, beberapa  menit terlewati.  Tuti mulai memperkenalkan  diri dan waktu yang mulai membawa kehangatan segera menggiring kelompok kecil itu saling memulai bertegur sapa.

Jodi berkata:

“Tentu tak mungkin  menampung semua keluhan yang Ibu-ibu rasakan hanya melalui kegiatan  reses  tiga kali dalam setahun.”

Ruangan agak hening.

“ Untuk itulah,” lanjut  dia. “Jika memang ada  persoalan yang  mendesak dan ingin  segera disampaikan, sampaikan saja secara langsung,  di manapun,  tak perlu menunggu hingga waktu reses tiba.”

Kipas angin di tengah ruangan  berputar dalam kecepatan dua speed. Menghantar kesejukan  tersendiri saat udara yang ditimbulkannya menerpa  sebagian wajah orang-orang dalam ruangan yang cukup sederhana.  Jodi menghela napas:

“Apalagi, reses di masa pendemi  memang  sangat berbeda terutama terkait larangan berkerumun dan penerapan protokol kesehatan secara ketat.”

Kalimat Jodi lantas disambut oleh Mayora (30), salah seorang perwakilan KWT yang menjadi pemantik  obrolan tentang dunai pertanian. Mayora menyebut tentang pentingnya memanfaaatkan pekarangan terutama  untuk tanaman hortikultura namun sejauh ini masih terkendala dalam hal pembinaan.

Bersama Tuti, Jodi lalu memaparkan prihal upaya  DPRD Mesuji dalam mendorong lahirnya Peraturan Daerah tentang  Lahan Pertanian Program Berkelanjutan (LP2B) yang memungkinkan semua informasi  pertanian terkoneksi dengan sistem elektronik.

“Naskah Akademinya sudah dianggarkan di APBD Perubahan dan diharapkan tahun 2021 ini bisa segera diperdakan,” papar dia. “ Dengan Perda ini, nantinya Ibu-ibu bisa mengakses dan menyampaikan informasi terkait dunia pertanian secara langsung sehingga setiap kegiatan bisa terpantau dan terkoneksi.”

Peserta lain lantas menyahut terkait  fasilitasi pemasaran bagi para pembudidaya jamur.

“Sementara ini kami masih menjual secara dor to dor dan ini agak  menyulitkan untuk meningkatkan jumlah produksi,” ucap peserta yang juga seorang Ibu.

Tuti dan Jodi kemudian menyarankan optialisas legalitas kegiatan usaha berupa pengujian sample jamur ke Balai Pengujian Obat dan Makanan (POM), termasuk packing atau kemasan.

“Nanti kita akan  coba dorong  sebagai produk khas jamur Mesuji,” kata Tuti.

Langit mulai mendung. Senja masih belum benar-benar tiba. Acara penuh kesederhanaan dengan melibatkan sedikit kaum ibu itu diakhiri dengan  doa dan foto bersama, tepat  di halaman rumah.

“Foto, Ah. Sama dewan ganteng,” celetuk seorang peserta.

Laporan: FajarMesaz

Facebook Comments

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*