Desa Tangguh di Batas Register Itu Bernama Gedung Boga

MESUJI.  Masih terlalu pagi. Butiran embun belum lagi mengering dan cahaya  matahari di langit Timur membias sangat lembut seolah sedang mengabarkan kehangatan lain yang akan segera tiba.

Sekelompok kecil warga Desa Gedung Boga berpakaian agak lusuh  sudah terlihat sibuk menata galian di salah satu sisi jalan masuk yang pada  bagian kanan dan kirinya, tumbuh kuat rimbunan pohon sawit, juga batang karet di antara lajur parit penjaga jalan  yang  sama sekali tak tampak digenangi air meski semalam hujan tumpah sangat deras.

Mereka berjumlah empat orang dan segera berpencar sesaat setelah tiba; dua orang  mengerjakan perapihan galian, dua orang lagi bergarak agak terpisah untuk mengaduk campuran semen dan pasir, secara bergantian.

“Nanti, Pak Kapolres akan melakukan peletakan batu pertama di sini,” kata Kepala Desa (Kades)  Gedung Boga,  Yulida Sriwahyuni,  yang  tiba tak lama kemudian.

Keempat warga itu hanya mengiyakan sambil terus mengayunkan cangkul, dengan penuh semangat, nyaris tanpa beban.

Desa ini berada tepat  di sebelah  Utara  ibu kota Kecamatan Wayserdang di Desa Bukoposo. Arah pintu masuknya sama sekali tak terpisah dari jalan lintas timur Simpang D dan orang-orang biasa menyebut titik itu  dengan Simpang Register 45 sebab letaknya memang berbatasan langsung dengan kawasan  yang beberapa tahun lalu sempat bergolak.

Matahari terus beranjak. Langit kian terang. Di balai desa, sejumlah aparatur desa  sibuk menata ruangan dan menyusun meja kursi, menyiapkan konsumsi, juga sound system. Satu regu anggota Linmas mematutkan galon cuci tangan dan handsanitizer  tepat di pos pintu masuk dengan sesekali tersenyum atau berguman kecil. Tubuh mereka berbalut seragam lengkap plus  atribut  kebesaran, juga pentungan.

Kades Yulida yang baru tiba lekas menuju ruangan balai desa dan mulai menunjuk ini itu. Beberapa kali ia meneriaki posisi meja yang dirasa kurang tepat, juga tatanan kursi dan kipas angin sebelum kemudian mendekati Kepala Urusan (Kaur) Perencanaan dan Keuangan,  Linda.

“Makan siang sudah beres?” tanya dia  pada Linda.

“Sudah, Bu,” jawab Linda. “Tempat makan disusun di ruang bagian belakang.”

“Dari mana lagi Iril ini?” Dan yang dia maksud adalah Kepala Seksi Kesejahteraan, Hazilil Mubarok,  yang melintas dengan masker warna kuning,  terikat di ujung dagu.

“Siap, Bu!” Iril mendekat.

“Siap, siap. Apa kabar spanduk dan banner?”

“Sudah terpasang  sejak kemarin, Bu.”

“Terpasang di mana?”

“Sesuai lokasi, Bu.”

“Ya sudah. Kamu itu sttandby di tempat. Jangan nganar-nganar terus. Slip dikit ngilang. Sebentar lagi acara  dimulai!”

“Siap!”

Sesudah itu, Kades Yulida sama sekali tak  banyak bicara lagi bahkan sampai dengan Camat Wayserdang, Anwar Pamuji, tiba di lokasi dan tak segera menuju balai desa melainkan duduk di pojok  posko jaga.

“Menunggu Pak Kapolres,” ucapnya dengan suara agak pelan dan pada saat yang sama, Kapolsek Wayserdang, Iptu Subur, juga melakukan hal serupa  seolah keduanya sedang bersepakat.

Acara seremonial dengan protokol kesehatan segera bermula setalah Kapolres Mesuji, AKPB Alim Hadi,  tiba ke lokasi. Sebelum memasuki balai desa,  dengan didampingi Anggota DPRD Kabupaten Mesuji asal Partai Gerindra, Iwan Setiawan, Aleg DPRD asal Partai Golkar, Joko Prayitno dan Camat Wayserdang,  Kades  Yulida mendaulat AKBP Alim  untuk memotong pita sebagai penegasan bahwa, gerakan Gedung Boga sebagai Desa Tangguh Nusantara sudah dimulai.

“Dengan mengucap bismillahirohmanirrohim. Launching Kampung Tangguh Gedung Boga, saya nyatakan resmi dibuka!” ucap Kapolres pasca mengiyakan.

Pita terputus.

Tepuk tangan membahana.

Kapolres dan rombongan kemudian beranjak menuju pintu untuk memasuki balai desa. Kibasan  kipas angin di empat penjuru dinding ruangan tak henti menghantak  bahkan hingga Kapolres Alim duduk membelakangi banner sepanjang 3 meter yang bertuliskan:  Luanching Kampung Tangguh, dan dia sempat membacanya selintas.

Seperti waktu-waktu sebelumnya, pasca lagu Indonesia Raya menandai bermulanya acara, Kapolres Alim kembali mengingatkan tentang pentingnya berdisiplin dalam menegakan apa yang ia sebut sebagai 5 M; memakai masker, mencuci tangan,  menjaga jarak, mengurangi perjalanan luar daerah dan menghindari kerumunan.

Kades Yulida mendapat sesi bicara setelah Kapolres dan dia duduk tepat di sebelah kiri dengan menghadap ke sejumlah tokoh masyarakat dalam formasi kursi yang tersusun sesuai protokol Covid-19. Ada deretan papan kegiatan di bagian atas dinding bagian muka dan ia sempat melirik Data Kegiatan Tim Penggerak PKK hingga kemudian berucap:

“Kampung Tangguh Nusantara adalah upaya membangun ketangguhan dalam menghadapi pandemi Covid-19,” ucapnya dengan suara menggema, memenuhi ruangan balai. “Karena itulah, di kampung ini, kita harus berupaya jangan ada yang terdampak apalagi terpapar.”

Ruang balai desa yang kedap mulai terasa hangat. Pantulan sinar matahari dari luar terus mengabarkan sisi pagi yang sudah beralih masa. Setelah menghela napas, Kades Yulida kembali melanjutkan:

“Dan yang tak kalah penting dari semua itu adalah, ketahanan pangan harus selalu kita jaga ketersediaanya  sebab itu adalah salah satu  jalan agar kita dapat bertahan dari dampak pandemi ini.”

Diakhiri dengan kalimat, “Desa Gedung Boga mendukung sepenuhnya Kampung Tangguh Nusantara!” sambutan Kades Yulida berakhir dengan riuh tepuk tangan sampai kemudian acara itu ditutup dengan penyerahan piagam oleh Kapolres Mesuji lalu berlanjut ke sesi peninjauan  beberapa titik lokasi ketangguhan.

Berawal dari peletakan batu pertama tugu Kampung Tangguh di batas Register 45, rangkaian peninjauan lokasi  beralih menuju ruang isolasi, lalu bergerak ke tanaman ketahanan pangan berupa jagung, milik salah satu warga.

Di sana, Kapolres menyempatkan memetik satu tongkol dengan menanyakan usia kebun jagung itu pada Aleng DPRD Mesuji, Iwan Setiawan dan Joko Prayitno,  meski tidak mengatakan kalau sesekali, dia juga tertarik dengan dunia pertanian.  Namun ketika peninjaun beralih menuju salah satu kolam yang bagian tengahnya bisa dilalui dengan jembatan beranyaman bambu, terdengar, komandan Kepolisian Resort Mesuji itu bergumam:

“Sepertinya, jembatan bambu ini bisa juga di buat di tempat kita.” Dan ia menyampaikan hal itu  pada Kasat Binmas Polres Mesuji, Iptu Sarijo yang lantas menjawab: “Siap!”

Kades Yuida kemudian  menyodorkan semangkuk pakan pada Kapolres yang lantas menebarkannya ke beberapa sisi kolam di hadapannya dan ikan-ikan yang mengetahui hal itu sontak beriak berlompatan. Mereka, ikan-ikan itu, seolah sedang ikut menyaksikan sebuah kampung di batas Register yang sedang meneguhkan makna sebuah ketangguhan.

Ya, seperti itu.

Laporan: FajarMesaz

 

Facebook Comments

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*