Berguru ‘Jelabat’ ke Tanah Jambi (Bagian 1)

SEKRETARIS Daerah (Sekda) Kabupaten Mesuji, Syamsudin, yang akrab di sapa Bang Syam,  menghela napas pendek setelah Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP), Rifriyanto,  menyampaikan kesiapan delapan personil Pelatihan Budidaya Jelawat (lazim disebut Jelabat) ke Balai Perikanan Budidaya Air Tawar (BPBAT) Sungai Gelam, Jambi. Mereka dipimpin oleh Sekretaris DKP, Ardi Umum dan Kepala Bidang (Kabid) Perikanan Budidaya, Sean Guritno dan perjalanan itu akan dilakukan selama beberapa hari (22/03).

“Ini gerakan awal menuju progam unggulan Dinas Perikanan,” ucap Rifri.

Bang Syam diam sesaat.  Kedua matanya menatap teduh dengan sebuah notebook tengenggam penuh catatan
tentang hal-hal penting yang  sudah disampaikan Kadis Rifri.

“Perjalanan ini adalah investasi,” kata dia  seolah ingin menekankan pentingnya mencatat semua hal, sebagai cara lain untuk mengingat, juga belajar. Ia menyebut kata investasi lebih dari sekali kemudian kata kemauan dan kata rakyat.  Dia, terus mengingatkan urgensi sebuah implementasi dalam mendorong perekonomian masyarakat di masa mendatang. Dia, ingin kegiatan itu tidak sia-sia.

“Dalami, serap dan catat apa saja yang yang diajarkan nanti sebab belajar, adalah bagian dari investasi pemikiran dan kita akan sangat membutuhkannya untuk menjaga kemaslahatan,” pesan Bang Syam.

Lebih 30 menit Bang Syam menyampaikan arahan sampai kemudian Kadis Rifri akhirnya berpamitan untuk beralih membawa rombongan menghadap Bupati Mesuji dengan tujuan yang juga sama; melaporkan persiapan keberangkatan.

Bupati Saply keluar dari ruang kerjanya hanya berselang beberapa menit pasca Rifriyanto dan semua utusan duduk di ruang tunggu. Tak ada  retorika. Figur sepuh beliau benar-benar menempatkannya sebagai  sosok dengan segenap keteduhan. Ia hanya berpesan agar  selalu berhati-hati dan  semua utusan memahaminya dengan, salah satunya, tidak meninggalkan protokol kesehatan.

“Bersikaplah layaknya tamu dan jangan melakukan apapun yang bisa menimbulkan aib bagi Kabupaten Mesuji,” ucap Bupati Saply.

Tepat pukul 13.00 siang, rombongan kecil itu sudah kembali ke kantor DKP untuk mempersiapkan hal-hal teknis, juga makan siang. Perjalanan benar-benar bermula satu jam kemudian dengan dua kendaraan berkapasitas masing-masing empat orang yang di dalamnya,  semua wajah sama sekali belum dapat  membayangkan seperti apa bentuk obyek yang akan dituju.

Menembus Batas Pelembang-Jambi

Kedua mobil itu mulai memasuki pintu tol Simpang Pematang tepat pukul 14. 05 WIB dengan kecepatan rata-tata 100 km/jam dan mobil pertama dipimpin Sekretaris DKP, Ardi Umum, berikut dua staf dan satu ketua Kelompok Budidaya Iklan (Pokdakan). Sedangkan pada mobil kedua di bagian belakang, Kabid Perikanan Budidaya, Sean Guritno, ditemani satu staf dan dua Pokdakan.

Sepanjang perjalanan, Sean terus berkomunikasi dengan Resti, staf Humas BPBAT yang sesekali ikut memandu. Sean juga memanfaatkan teknologi Googlemap untuk memastikan arah dan jarak sehingga setiap mereka tiba disebuah pertigaan atau perempatan, sebuah perintah akan terdengar atas ke mana arah yang harus ditempuh.

“Lebih baik lambat  daripada tersesat,” seloroh dia dan seisi mobil segera melupakan cara mengantuk.

Iring-iringan itu mulai keluar dari pintu tol Jaka Baring, Sumatera Selatan, tepat saat waktu menunjukkan pukul  16. 00 sore dan kecepatan perjalanan setelah itu menurun drastis pada angka 70 km/jam. Ini, belum ditambah empat kali beristirahat untuk mendinginkan mesin dan mengisi BBM sehingga perjalanan ini baru bisa membawa mereka tiba di BPBAT Sungai Gelam tepat  pukul 01 dini hari.

Sagiman, Satpam BPBATSG berpenampilan sederhana menyambut kedatangan lalu mengarahkan untuk mengisi buku tamu.

“Kok, hanya empat? Bukankah delapan orang?” tanya Sagiman.

“Yang empat masih di belakang,” jawab Sean.

“Rusak?”

“Bukan, Pak. Makan menjelang pagi.”

Mereka lalu tertawa.

Sean dan kawan-kawan kemudian di antar menuju gueshouse dengan fasilitas  satu ruang tamu, dapur, kamar mandi dan dua kamar tidur ber-AC.

Recky Rolisme, salah satu ketua Pokdakan Kecamatan Mesuji, bergumam setiba di dalam:

“Alangkah sehat tempat ini, pecak hotel!” Dan dia adalah salah satu peserta yang sudah memiliki SIM tapi tak mau bergantian membawa mobil!

Rombongan Sekdis DKP, Ardi Umum, tiba dengan wajah kelelahan setengah jam kemudian. Adalah Agus, staf DKP
Mesuji yang kemudian mempertegas alasan keterlambatan itu.

“Kami kesasar, Googlemap nggak ada signal. Payah!”

BPBATGS, Sekolah Perikanan 40 Hektar

Balai Perikanan Budidaya Air Tawar  Sungai Gelam (BPBATSG) Jambi adalah Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) yang bertugas menerapkan teknik pembenihan dan pembudidayaan.

Pada tahun 1994, UPT ini bernama Loka Budidaya Ikan Air Tawar Jambi sebelum kemudian berubah menjadi BPBATSG pada tahun 2009.  Lokasinya terletak di Bumi Perkemahan Desa Sungai Gelam, Kecamatan Sungai Gelam, Kabupaten Muara Jambi, dan berjarak  23 km dari pusat kota.

Dengan areal mencapai 40 hektar (ha), UPT ini memiliki 4, 8 ha areal perkolaman, 5, 85 ha waduk dan 29 ha daratan sebagai wilayah perkantoran, asrama dan mes operator. Sumber air perkolaman berasal dari air resapan dalam 4 waduk dan total areal  yang benar-benar sudah terbuka baru sekitar 20 ha.

Ali Husen, staf BPBATSG yang mendampingi kedatangan rombongan malam itu mengatakan, pada mulanya, pengerjaan lokasi ini juga melibatkan beberapa negara yang salah satunya adalah Jepang.

“Tapi sekarang tidak lagi. Semua sudah mandiri,” kata dia.

Menjalani Pagi Perdana

Pukul 09.00 pagi, semua utusan Mesuji sudah menunggu di audetorium BPBATSG, sebuah ruang pertemuan dengan kapasitas 72 orang dan full AC.

Mereka disambut Kepala BPBATS Jambi, Boyun Handoyo dan pagi itu, sekelompok pembudidaya asal Desa Sungai Kapas Kecamatan  Bangko Kabupaten Merangin, Jambi,  juga sudah berada di sana  untuk menimba pemahaman terkait budidaya ikan patin. Setidaknya, ada lima Pokdakan dari desa itu yang masing-masing diwakili oleh dua  orang.

“Kami juga didampingi dua aparatur desa sebab pemberangkatan ini murni menggunakan Dana Desa,” kata Dedi Prasetyo, perwakilan Pokdakan.

Dia kemudian berkisah tentang ikhwal kedatangan yang sedikit lebih dulu, juga  terkait budidaya ikan nila yang mulai dijalankan.

“Sekarang tinggal nunggu panen,” ujar dia.

Langit begitu terang. Lazuardi yang memulas senja kemarin benar-benar membawa kabar baik tentang sebuah hari yang terus menjanjikan harapan.

Pasca pembukaan, semua peserta di bawa ke lokasi kolam dengan dua titik tujuan: Pokdakan  Merangin bertolak ke pemijahan ikan patin, sedang perwakilan Mesuji bergerak menuju kolam lain untuk mempelajari ikan jelawat.

Pada saat yang sama, Sekdis Ardi Umum mendapat bagian untuk melayani wawancara khusus Humas BPBATSG dan dia melakukannya tepat di sisi pagar hamparan kolam.

Pemijahan: Dari Helm Hingga Jurus Thaici

Luas kolam yang didatangi itu tak kurang dari 0,5 hektar dengan tiga buah keramba indukan  ikan jelawat, patin dan nila. Pada tiap-tiap keramba, terpasang sebuah kincir air sebagai alat penyedia oksigen yang dua di antaranya terus dihidupkan.

“Jangan lupa pakai helm,” kata tenaga ahli pemijahan ikan jelawat BPBATSG, Ali. “Nanti Bapak-bapak akan tahu kenapa harus melakukannya.”

Sebelum benar-benar turun ke kolam,  Humas BPBATSG meminta  semua peserta memperkenalkan diri dan  Ardi Umum mewakilkannya pada Sean Guritno. Suasana penuh persahabatan segera berlangsung di bawah sebatang pohon setengah usia  yang ujung daunnya terus bergerak ke Utara.

Sean memperkenalkan personil satu per satu sampai kemudian semua peserta mulai turun menuju kerambah jelawat  untuk memulai pembelajaran pertama: Teknik memilih indukan.

“Pertama-tama, kita harus memahami perbedaan pejantan dan betina dan untuk hal ini,  kita akan memakai  jurus Thaichi,” ujar Ali dan yang dia maksud adalah teknik membalik tubuh ikan dengan cara memutarnya di dalam air.

Agus dan Ardi, staf DKP yang sudah memakai celana pendek segera memposisikan diri di sisi jaring yang perlahan mulia ditarik, begitu juga dengan ketua Pokdakan Pancajaya, Slamet.

Agus kemudian melakukan apa yang disebut sebagi jurus Thaichi tapi dengan sedikit improvisasi; diputar, dijilat, dicelupin dan dia harus membayar mahal untuk hal itu; seekor jelawat dengan bobot 3 kg tiba-tiba bergeliat lalu melompat: menghantam bibir bawah Agus yang segera tersentak.

“Wadoooh!”

Hampir saja anak bertubuh kecil itu terjungkal ke belakang sebelum ia lekas tersadar untuk memegang unjung jaring semakin erat.

“Itulah jawabnya,” sambar Ali. “Kenapa tadi saya bilang  helm harus dipakai dan kacanya harus tertutup.”

Agus tersenyum masam dengan wajah serupa  lelaki kasmaran yang ketinggalan kereta pagi.

Ali  melanjutkan: ciri jelabat betina,  biasanya bersirip punggung lebih pendek dengan perut bawah manjang sampai ke ekor.

“Dan jika  disentuh, bagian perut itu akan terasa  kenyal,” urainya.

Untuk melihat apakah ikan dalam keadaan stres atau tidak, Ali juga menerangkan beberapa penanda.

“Ikan betina yang stres perutnya akan memerah dan dibutuhkan waktu minimal dua bulan untuk  memulihkannya,” jelas Ali.

Pelajaran hari itu terus berlanjut hingga ke teknik mengambil indukan; cara menghilangkan stres; juga metode penyuntikan hormon menuju pengeluaran telur  untuk pemijahan.

Suryo Kunindar, staf DKP yang bertugas sebagai dokumentator, terus mengabadikan setiap jengkal kejadian lewat kameranya dan ia melakuknnya sebagai sebuah tanggungjawab.

“Agar ada dokumen jika ada yang terlupakan,” kata dia.

Saat pengambilan indukan, Ali dan kawan-kawan memisahkan beberapa ikan di luar jelawat yang juga berada dalam keramba dan mereka menyebutnya sebagai ‘pengganggu’.

Maka, berkatalah Recky: “Kalau pengganggu berarti boleh dipanggang?”

Di luar dugaan, Ali menjawab: “Ya,” dan pada sorenya, Agus kembali tertimpa tahlil: harus membakar 10 kg ikan nila untuk cemilan malam yang dingin. Bayar? Tidak. Semua diberikan secara gratis!

Kembali ke Mesuji: Sebuah PR

Momen hadirnya 10 kg ikan bakar benar-benar menjadi hal berbeda malam itu.  Terlebih, pada saat yang sama, salah satu anggota Pokdakan Merangin, Dedi, datang berkunjung dan diskusi panjang segera terjadi.

Ardi dan Agus saling bertukar informasi terkait perikanan di Mesuji, begitu pun halnya  Recky dan Slamet. Mereka, dengan tanpa merencanakannya, terus menghimpun semua pembicaraan terkait ikan dan hal itu berlangsung hingga larut.

“Semoga suatu hari nanti Mesuji akan menjadi wilayah pembesaran bagi ikan jelawat,” kata Recky.

“Memang belum ada?” tanya Agus sambil mencomot ikan bakar dan melahapnya dengan sehat. “Baik bener orang-orang di sini, ya. Ngasih ikan sebanyak ini.”

“Belum diketahui sejauh ini,” sahut Sean yang sejak tadi lebih memilih diam sebagai pendengar.

Setidaknya, Kabupaten Mesuji adalah wilayah eksotis di mana antara nelayan dan petani berhimpun di satu tempat dan ini, sesungguhnya adalah aset luar biasa!

“Kita memiliki PR besar setelah ini,” ujar Sean seolah sedang  menerjemahkan sambutan Sekdis DKP, Ardi Umum, di acara penyerahan cinderamata mata kemarin pagi.

Pada saat itu, Suryo sama sekali tak tampak. Kelelahan telah merenggut staminanya setelah sempat mendokumentasikan semua video pelatihan sebelum memindahkannya ke memori laptop. (BERSAMBUNG)

Laporan: FajarMesaz

Facebook Comments

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*