Berguru ‘Jelabat’ ke Tanah Jambi (Bagian 2)

MASIH terlalu pagi. Matahari  baru  mengapung di sudut 45 derajat meski embun mulai  menguap dan langit yang menaungi Kota Jambi  terus memendarkan cahaya hangat (24/03).

Kabid Sean dan Sekdis Ardi Umum sudah mengumpulkan semua tenaga teknis  dan  Pokdakan di ruang tamu Wisma Lele 2 untuk berbagi tugas.  Ada informasi dari Jhon Tanara, salah satu anggota DPRD Mesuji yang saat ini sedang mengadakan kunjungan kerja di DPRD Batanghari dan Kota Jambi bahwa, mereka akan menyempatkan  datang ke BPBATSG dan itu artinya,  pembagian tugas menjadi hal yang  penting.

Sesuai agenda,  hari kedua  ini tim  akan mempelajari mekanisasi pakan pola BPBATSG sebelum proses penyuntikan hormon kedua bagi indukan jelawat, tepat pukul 12.00 siang.

“Penyuntikan ketiga akan dilakukan malam nanti,” kata Sean seraya menambahkan,  pukul 06.00 besok pagi adalah waktu penyuntikan terakhir sebelum dilakukan striping –pengeluaran telur sebelum ditetaskan.

Sekdis Ardi Umum mengatakan dia yang akan menyambut rombongan DPRD dan untuk keperluan itu, dia meminta seorang staf dan Pokdakan untuk menemani.

Pada Haji Arif Mereka Bertanya

Sejak awal, informasi tentang seorang pembudidaya sukses yang kini memiliki 15 ha kolam sudah menjadi magnet tersendiri. Karena itulah, selesai mengikuti  mekanisasi pakan BPBATSG dan penyuntikkan hormon, bersama Pokdakan dan staf teknis, Sean segera bertolak mendatanginya.

Dibutuhkan waktu selama 30 menit dari BPBATSG sebelum rombongan akhirnya tiba dan  gerimis yang turun di ambang senja sama sekali tak mengelakan kalau perjalanan kali ini juga adalah hal yang penting.

Dia  bernama Haji Arif,  berusia 55 tahun, memiliki 15 ha kolam air tawar dengan 15 karyawan dan pemenuhan keperluan pakan dilakukan secara mandiri.

Dia memelihara tiga jenis ikan yakni patin, lele dan gurame dan  setiap kolam di kelola oleh satu orang. Terkait tatakelola ini, Haji Arif berkata:

“Tak ada bahasa karyawan, saya memahami mereka sebagai  saudara dan setiap panen, kami berbagi hasil 50:50.”

Setiap bulan, kolam-kolam itu memerlukan  30 ton pakan yang ia produksi sendiri  dengan bantuan  dua mesin giling dan masing-masing kolam berisi 15 ribu benih.

Haji Arif menjelaskan, kelemahan pakan mandiri hanya terletak pada waktu panen yang sebulan lebih lama tapi itu tak sebanding dengan  biaya ringan selama proses pembesaran.

“Dalam setiap kolam, saya biasa memanen  hingga 7 ton dan khusus untuk patin, terakhir kali  saya jual dengan harga  Rp. 16 ribu per kilogram,” kata dia.

Haji Arif juga menceritakan,  pada mulanya ia hanya memiliki 3 kolam dan sempat mengalami  kegagalan yang nyaris membuat ia putus asa.

“Saya rugi ratusan juta dan harus mengajukan pinjaman modal kembali ke bank.”

Atas keputusan yang dianggap terlalu berani itu, isterinya sempat menyebut ia  gila namun lelaki paruh baya ini sama sekali tak peduli. Hingga akhirnya, pada tahun  2015 prediksinya terwujud dan dia kembali bangkit.

“Sekarang anak saya sudah menyelesaikan Sekolah Tinggi Perikanan dan pada saatnya nanti, saya tak perlu ragu lagi untuk menyerahkan pengelolaan 15 hektar kolam ini pada dia.”

Mengenai pakan mandiri,  Haji Arif mengaku  hanya menggunakan dua bahan utama yakni dedak halus (bekatul) dan ikan rucah dan inilah alasan Sean menjatuhkan pilihan untuk menimba ilmu padanya.

“Polanya ini bisa diadopsi sebab dua bahan baku itu cukup melimpah di Mesuji,” ucap Sean setelah mereka kembali.

Terkait komposisi dan kebutuhan nutrisi,  Haji Arif menyebutkan, kadar protein atas dua bahan itu  bisa mencapai 26 persen dan dia sudah mengujinya.

Semangat, Jelawat dan Legislator yang Tiba

“Kami sudah di pintu gerbang. Ke arah mana selanjutnya?” Ketua Komisi ll DPRD Mesuji, Jhon Tanara, segera menghubungi Sekretaris Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Mesuji, Ardi Umum, saat akhirnya mereka tiba di pintu gerbang BPBATSG menjelang senja.

Kedatangan Jhon Tanara (Fraksi PKB) tidak sendiri. Dia ditemani 4 legislator lain masing-masing: Hartopo dan Mat Nur (Fraksi PAN); Mego (Fraksi PDI Perjuangan); Parsuki (Fraksi Partai Golkar) dan Ismail Tajudin (Sekretaris DPRD Mesuji).

Mereka tiba tepat saat hujan mulai reda meski mendung masih bergelayut di langit Jambi. Guruh hanya terdengar sesekali.

“Terus masuk, belok Kanan, Pak,” jawab Ardi Umum.

Rombongan pun merangsek dan dari jarak beberapa ratus meter,  Ardi Umum segera melihat sebuah mobil  dalam kecepatan rendah yang berhenti di halaman kantor teknis  BPBATSG. Jarak  kantor itu  hanya  beberapa ratus meter dari Wisma Lele, tempat para utusan Kabupaten Mesuji menginap.

Kepala BPBATSG, Boyun Handoyo, masih belum  tampak ketika Ardi Umum  tiba dan Lagislator pertama yang menyapa  adalah  Mat Nur.

“Mana yang lain?” tanya politisi PAN itu setelah menutup pintu mobil.

“Sedang belajar pengelolaan pakan mandiri, Pak. Kabid Sean yang mengetuai.” Ardi menunjuk ke arah Timur untuk menggambarkan sasaran lokasi yang dia maksudkan.

“Ada berapa orang?” tanya Parsuki yang sudah duduk di salah satu pojok tiang depan untuk  melihat-lihat kondisi sekitar. “Rencananya berapa hari?”

“Delapan orang,” jawab Ardi lalu keduanya memasuki ruangan. “Kita merencanakan lima hari.”

“Full?”

“Pulang dan pergi di luar itu.”

Mego yang sudah berada di dalam ikut mengajukan pertanyaan:

“Kawan-kawan hanya fokus belajar budidaya jelawat atau yang lain juga?”

“Jelawatnya bisa dibudidayakan di kabupaten kita ‘kan?” Yang menyahut adalah Hartopo.

“Fokus jelawat, Pak, dan  kita akan lihat semua kumungkinannya sepulang dari sini; bisa dibudidayakan atau tidak.”

Jhon berkata: “Ke depan sepertinya harus  lebih diseriuskan lagi, Pak. Saya melihat jelawat berpotensi besar untuk  kembangkan di Mesuji.”

“DPRD ikut  backup juga, Pak  Dewan,” Ismail Tajudin menyela dan dia sedang menyampaikan retorika.

Ardi Umum mengiyakan beberapa kali.

Pembicaraan kemudian beralih ke Kepala BPBATSG, Buton Handoyo, yang baru tiba  dan mereka mulai mendiskusikan berbagai kemungkinan terkait ekosistem ikan jelawat.

Buyon Handoyo mengatakan, habitat ikan jelawat lebih dominan hidup di danau dan sungai meski tetap memungkinkan untuk dibudidayakannya di kolam atau keramba.

“Bedanya, jika di kolam atau keramba pertumbuhannya sedikit agak lambat,” ucap dia

Terkait pembesaran, kepala BPBATSG itu mengatakan, sejauh ini, baru Kabupaten Kampar, Riau, yang sudah melakukannya.

“Lokasinya diseputaran Sungai Kampar,” ujar Buyon lagi.

Mar Nur dan Mego sempat membicarakan potensi dan kendala atas Sungai Mesuji yang posisinya berada dalam wilayah  dua provinsi sehingga pemanfaatan sungai mungkin tak akan maksimal.

“Itu belum ditambah faktor limbah perusahaan di bagian hulu,” kata Hartopo.

Menjawab Parsuki: “Dan kalaupun yang dipilih adalah program kolamisasi, maka rekrutmen  pendamping juga harus menjadi bagian.”

Pembicaraan itu terus melebar pada konsep dan kebijakan perikanan,  juga tentang wacana Desa Perikanan yang sedang dijalankan Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Sebelum berbalik,  kelima Aleg DPRD Mesuji itu menyempatkan mengitari lokasi BPBATSG dan Jhon Tanara kembali berkata kalau kedatangan mereka sebetulnya dalam rangka Kunjungan Kerja (Kunker) Panitia Khusus (Pansus) atas Pengelolaan Keuangan ke DPRD Batanghari dan DPRD Kota Jambi. Memutuskan singgah ke BPBATSG, lebih kepada  karena mereka tahu DKP Mesuji sedang mengirim tenaga teknis untuk mempelajari budidaya jelawat.

“Artinya, dalam konteks ini, kami sebenarnya sepakat,” ucap Jhon.

Striping dan Recovery: Tahap  Menuju Larva

Di BPBATSG, setiap orang yang ditemui pasti akan menyapa dan itu adalah kesan tersendiri selain cara UPTD ini melayani tamu yang sebaik melayani diri sendiri.

Recky dan Agus terus membicarakan hal ini di sepanjang jalan saat mereka menuju tempat penetasan telur pada pagi di hari ketiga.

Waktu sudah menunjukkan pukul 10.00  dan proses  striping akan dimulai di sana.

“Kita akan mengambil sperma pejantan terlebih dahulu,” berkata Sutisna, salah satu tenaga teknis BPBATSG yang sejak kemarin mendampingi Ali setelah keduanya tiba di ruang penetasan. Dia sudah menangkap pejantan jelawat dari bak penampungan untuk dipindahkan ke dalam pelastik berisi campuran Arowana Stabilizer dan mereka menyebut kegiatan itu sebagai proses pembiusan.

Seperti biasa, Suryo terus mendokumentasikan semua tahapan bahkan sempat juga mencoba untuk memegang jelawat pejantan sebelum di-striping. Dan, ikan itu memberontak!

“Tak mau dia dipegang bujang,” selorah Sean dan semua tertawa.

Setelah melewati waktu beberapa menit, pejantan jelawat itu kemudian dikeluarkan dan tahap selanjutnya adalah pengambilan sperma.

“Posisi tangan harus kering dan benar-benar bebas dari  air,” ucap Sutisna lagi. “Kepala ikan juga harus terutup dengan kain atau handuk.”

Usai pengambilan sperma,  pejantan jelawat yang masih terbius itu kembali dimasukan ke bak penampungan dengan posisi aerator yang terus menyala untuk memastikan sirkulasi oksigen.

“Ini namanya di-recovery,” lanjut Sutisna. “Batasannya,  sampai kedua mata ikan pulih seperti semula. Jangan pindahkan ikan jika kedua matanya masih berwarna putih.”

Usai melakukan pengambilan sperma pejantan, kegiatan berikutnya adalah mengambil telur jelawat betina sebelum dilakukan pencampuran.

Setidaknya, masih dibutuhkan beberapa proses lagi hingga striping itu berhasil membuahkan larva jelawat dan itulah yang akan di bawa pulang ke Mesuji.

Laporan: FajarMesaz

Facebook Comments

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*