Berguru ‘Jelabat’ ke Tanah Jambi (Bagian 3/Habis)

SETELAH Resti menyampaikan rencana penutupan dan Sean menjawab masih menunggu kondisi larva hasil striping, Sean dan Recky kembali berdebat tentang pola pembesaran jelawat setiba di Mesuji. Mereka sepakat tentang   Pokdakan,  tapi tidak untuk pakan tambahan dalam proses pembesaran (25/03).

“Pak Ali bilang harus daun singkong, Bang. Bukan daun yang lain, apalagi daun jendela!” pekik Recky lalu melahap sepotong snack pagi.

“Siapa pula yang bilang daun jendela: Daun kelor!”

“Walaupun…”

“Siapa tau bisa sebab dalam pola pertanian,  daun kelor juga digunakan karena kaya nutrisi dan unsur mikro. Sangat bagus untuk pupuk vegetatif di masa pertumbuhan.”

“Ikan dan tumbuhan manalah sama.”

“Memang tidak sama…”

“Selamat pagi, Gaes…” Agus, teknisi Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Mesuji yang baru selesai mengganti air larva di Pusat Pemijahan BPBATSG muncul bersama Ardi dan  kondisi itu segera membuyarkan topik diskusi.

Sean dan Recky menoleh.

“Larvanya sudah bisa dibawa, Bang. Tidak perlu nunggu besok,” kata Ardi.

“Tapi jadinya cuma 10 persen,” lanjut Agus.

Yang bener bae. Alangke dikit sepuluh persen, tu? Salah dengar, dak?” sambar Recky.

“Anah! Bener, Wah. Sepuluh persen!” Ardi ngotot.

Agus tak kalah garang: “Tenan, Bang. Gur semono dadine.”

“Ya, sudah,” sahut Sean. “Berarti kita bisa bersiap untuk penutupan. Tadi Mbak Resti juga sudah membahas waktunya.”

BPBATSG: Sebuah Harapan

Beberapa waktu setelah Sekdis Ardi Umum ikut bergabung, akhirnya disepakati penutupan dilakukan sebelum salat jum’at agar konsentrasi setelah dan sebelum itu benar-benar fokus pada  penggantian air larva sekaligus packing.

Agus dan Ardi kembali ke Pusat Pemijahan diikuti Pak Slamet dan Recky juga Suryo, untuk memastikan kondisi larva dan setelah salat Jum’at,  semua anggota tim lekas beranjak menuju kantor teknisi untuk melakukan kegiatan penutupan dengan Kepala BPBATSG.

Hal pertama yang ditanyakan Boyun Handoyo setelah mereka tiba adalah: Larva.

“Sudah selesai?”

Sean menjawab: “Sudah, Pak.”

“Muncul berapa persen?”

“Kisaran sepuluh.”

“Sedikit sekali?”

Wahyu Budi, Kepala Sub Koordinator Pengujian BPBATSG yang menemani Buyong Handoyo menjawab dengan mengatakan pejantan jelawat tenyata kondisinya sedang tidak lebih baik.

“Karena itu, nanti Mas Sean bisa terus menjalin komunikasi ke kita untuk kelanjutannya. Insyaallah kita selalu siap,” ucap Wahyu.

“Setidaknya ini   sudah cukup baik untuk ukuran pemula,”  jawab Sean dan Sekdis Ardi Umum melanjutkan dengan penyampaian terimakasih dan permohonan maaf atas hal-hal yang tak berkenan selama mereka berada di BPBATSG.

“Mohon juga dimaklumi jika ada yang tidak pas,” ujar dia.

Kepala BPBATSG  mengangguk beberapa kali lalu tersenyum. “Sama-sama,” jawabnya.  “Larvanya silakan dibawa untuk dibesarkan dan kalau nanti kawan-kawan Mesuji terkendala  terkait poses,  Insyaallah kita juga siap membantu. Bisa Kawan-kawan yang kembali ke sini, atau sebaliknya; kita yang ke Mesuji.”

Berhenti sebentar, Buyon menatap ke sekeliling  sebelum kemudian kembali berkata:

“Atasnama Kepala BPBAT Sungai Gelam, saya mengucapkan terimakasih dan mohon maaf jika terdapat hal yang tidak tepat. Meski hanya singkat, semoga hasil pembelajaran ini dapat segera diterapkan sebab kita juga sangat berharap keberadaan ikan jelawat ini terus berkembang.”

Pada saat itu, langit Jambi tampak sedikit mendung.

Tiga Kunci Penetasan

Dari kantor teknis BPBATSG, rombongan Mesuji  kemudian bertolak menuju  Pusat Pemijahan di mana Ali dan Sutisna sudah menunggu untuk mempersiapkan packing sekaligus menyampaikan beberapa hal penting sebelum rombongan  benar-benar beranjak.

“Kualitas induk,  pejantan dan PH air adalah  kunci keberhasilan penetasan,” kata Ali seraya memperlihatkan ratusan larva melalui toples pelastik bening yang dia angkat ke atas. Agus, Ardi, Suryo, Pak Slamet dan Recky mendekat untuk mengamati.

“Standar PH  tidak boleh kurang dari delapan tapi jangan di atas sembilan,” tambah dia.

Sutisna menyahut:

“Jaga komposisi pakan.  Berikan tiga persen dari bobot tubuh ikan yang  sepertiganya harus  berbentuk dedaunan. Di sini, kita biasa memakai daun singkong.”

Beberapa menit setelah Sutisna dan Ali menyampaikan hal-hal prinsip dalam budidaya jelawat, Pak Ramlan, teknisi BPBATSG yang lain,  mulai memasukan larva ke dalam pelastik setelah sebelumnya melakukan  pengurangan debit air pada bak penampungan  hampir separuh.  Pekerjaan itu dibantu oleh beberapa siswa SMK Jambi yang sedang PKL. Setelah itu, barulah ia bergerak ke lokasi sebelah untuk melakukan pengisian oksigen.

Bertolak ke Mesuji

Berkatalah Recky pada Pak Slamet pasca packing dan pengisian oksigen selesai dilakukan:

“Kok rasanya malas pulang, ya?

“Berarti belajarnya berkah,” jawab Pak Slamet.

“Ingin cepat-cepat memelihara jelawat itu.”

“Sama, Bang.”

“Jelawatnya?

“Bukan. Betahnya.”

Mereka tertawa.

Rombongan Mesuji akhirnya benar-benar meninggalkan BPBATSG tepat pukul 16.00 WIB dan setiba di pintu gerbang, seseorang yang mulai terasa familiar menyapa dari sisi kiri dan mereka saling sapa.

“Hati-hati di jalan,” dia adalah Sukiman, Satpam pos jaga yang sempat menyambut ketika rombongan Mesuji pertama kali datang. “Semoga berkesan,” tambah dia dan sebelah tangannya terus melambai dengan senyum yang tak henti-henti mengembang.

Lalu hujan turun tepat ketika malam mulai melarungkan  gelap. Tak ada yang dapat dipastikan dari rentang perjalanan serupa itu kecuali bahwa, sebuah amanah sudah datang  dan itu tentang kerja keras DKP Mesuji dalam mengembalikan kejayaannya ikan jelawat.

Semoga.

Laporan: FajarMesaz

Facebook Comments

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*